Setelah asyik berkeliling, kami disambut dengan nyanyian daerah khas Jawa Barat. Lalu acara dibuka dengan sambutan dari Dr Zaini Alif. Sebuah pemikiran yang mencerahkan, bagaimana kita memiliki kewajiban moril untuk tetap melestarikan permainan anak di Indonesia.

Setelah sambutan-sambutan, satu hari itu kami diajak bermain dari mulai permainan sederhana seperti tepuk sabrang, sepedahan bambu, bedil-bedilan dan lain lain.

Bada salat Jum’at dan makan siang, peserta agenda ini yang berjumlah sekitar 11 seniman dan pegiat literasi, diajak dan diajarkan membentuk origami dengan media daun kulit kelapa. Kami membuat keris sampai membangun candi.

Agenda yang seru, karena mengajak kami untuk selalu mengasah kemampuan berpikir dan mengingat tentang fokus dan ingatan.
Setelahnya kami berfoto bersama dengan karya yang kami buat . Hari yang melelahkan namun menyenangkan. Ya, ini “main yang bukan sekadar main-main”. (*)




