Salah satu hal yang membuat sebuah diskusi sosial tak pernah punya solusi atau titik temu ialah tercapak eratnya struktur pikiran manusia yang bebal dan banal. Sehingga berhentilah berdebat dengan orang yang gemar membentengi atau merasionalisasi diri dengan situasi atau akidah tertentu untuk melanggengkan sebuah perilaku amoral. (Elvan, 1).

Di sini, EdP sedang menegaskan sebuah fakta tanpa harus menyebutnya satu per satu karena ini amat sangat kompleks; sudah sedang dan bahkan akan terjadi lagi di negeri ini. Semua manusia mempunyai kebenarannya masing-masing. Konsep berpikir ruang publik yang ditawarkan, seakan diprivatisasi ke dalam golongan tertentu. Tak ada proses keterbukaan berpikir yang saling menerima selain sikut-sikutan mempertahankan kebenarannya masing-masing.

Media sosial mendapatkan tempat ‘paling sakral’ di tengah kehidupan umat manusia saat ini merupakan salah satu sarana yang ‘menjebak’ manusia ke dalam zona pamer pamor, bikin rumor, atau bisa juga jadi tukang teror. Jika manusia tak mampu menyaringnya dengan saringan kebijaksanaan, maka manusia terperangkap ke dalam dualisme pengakuan jati diri; yang digital dan yang nyata. Maka dalam keadaan seperti ini, hadirlah sosok Paulo Coelho dari Rio de Janeiro. Ia datang memberi renungan kelas candu yang terdapat dalam bukunya Seperti Sungai Yang Mengalir. EdP mencoba mengulik kisah Paulo Coelho ini dengan apik, hidup yang mengalir itu membawa kita menuju cahaya. Cahaya yang bisa terkatakan sebagai impian atau cita-cita hidup. Sebelumnya kita telah berjuang.

Namun, kita juga mesti sadar dan realistis, adakalanya perjuangan itu tak selalu membuahkan hasil maksimal. Kadang kita terantuk jatuh dalam kegagalan dan boleh larut dalam putus asa, raib harapan, dan menganggap hidup tak berarti. (Elvan, 17).
Dalam dunia sepak bola pun hadirlah hal-hal serupa. Sebab, sepak bola adalah panggung penyaji eksistensi, persepsi serentak sensasi. Di atas lapangan hijau, para pemain berkeliaran dalam satu rangkaian irama ritmis. Idealnya, mereka menyuguhkan kualitas permainan berkelas. Juga cerdas dan tangkas. Terlihat bahwa sebuah realitas inti serentak intim didapuk untuk mencapai hasil terbaik. Namanya adalah kemenangan. (Elvan, 19).
Ada banyak cara menghalalkan kemenangan seperti di dalam percaturan perpolitikan kita dewasa ini. Taktik dan strategi ditata secara rapi dan tak kasat mata. Semua cara ditempuh, mencari titik terkuat dari lawan agar bisa dilemahkan.

Membuat penjagaan-penjagaan terstruktur, agar segala pergerakan tidak begitu leluasa. Di sana ada ambisi yang membuas secara tiba-tiba dan dalam waktu bersamaan, bisa menjadi yang paling adem.
Untuk itu, dibutuhkan solidaritas yang merupakan suatu nilai penting guna mempererat rasa persaudaraan di dalam sebuah pertandingan. Ada lawan dan kawan pada lini-lini kehidupan tertentu. Sebab, hidup tanpa persaingan itu bukan sebuah seni. Ketika ada persaingan, daya kreativitas manusia dipacu dan dipicu untuk mencapai titik kepuasan walau sesaat.

Dan di sini, apresiasi sangat dibutuhkan agar mampu memantik manusia untuk terus berkreasi. Pentingnya budaya apreasiasi merujuk pada pengakuan akan hakikat keberadaan orang lain, motivasi demi pengembangan diri lanjutan. (Elvan, 34). Yang diungkapkan EdP ini adalah sebuah kenyataan yang berbanding terbalik dengan keadaan saat ini. Di mana, apresiasi tidak pernah tepat sasar. Pengkotak-kotakan atau pengelompokan dalam sebuah kelompok di semua bidang kehidupan saat ini, seringkali menimbulkan ketimpangan apresiasi sehingga banyak pihak yang menggunakan standarisasi. Ini juga bahaya bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Ada kenyataan lain yang dinarasikan EdP dalam bukunya, yakni tentang kebencian. Ini nyata dan selalu hadir dalam semua segi kehidupan manusia. Melalui pertanyaan yang menohok, Sudahkan Anda Menebar Kebencian Hari ini? Sepintas kilas, jelas EdP tidak mengajak kita untuk menebar kebencian, tetapi melalui pertanyaan itu, EdP mau menyadarkan manusia bahwa, kebencian bukanlah salah satu cara untuk menyelesaikan sebuah persoalan dan justru mematikan daya saing positif antarmanusia. Barangkali kita sering lupa bahwa mengatasi ketidakberesan di dalam diri mesti diutamakan terlebih dahulu sebelum terjun ke dalam ruang kehidupan orang lain.
Secara sepintas kilas, orang lain kita tuduh tebarkan ancaman. Tak jarang, tanpa pijak pikir bijaksana, kebencian jadi seperti bola liar yang siap ditendang ke mulut gawang siapa saja. Kita jadi tidak kritis. Reaksioner tanpa filter. Hantam sana-sini tanpa akidah. (Elvan, 59)
Untuk menghindari hal-hal semacam itu, EdP mengajak kita agar banyak-banyak baca buku dan piknik. Hal itu nyata dalam contoh yang dilakukan oleh EdP melalui Menggaris Dari Pinggir. Ini adalah buah pikirannya (baca: ide) ketika berhadapan dengan realitas yang terjadi di sekitarnya. Memanfaatkan media sosial untuk dijadikan laut tempatnya berselancar bebas, menggali informasi demi menuntaskan rasa ingin tahu dan penasarannya.

Piknik-piknik yang dilakukan EdP itu adalah ke dalam buku-buku yang sering di bacanya. Ajakan dari EdP untuk berpiknik itu jelas, sebab EdP sendiri adalah seorang jurnalis yang suka traveling. Selain itu, di akhir buku kumpulan esainya ini, EdP membuat uraian singkat tentang kaum muda menulis.
Kaum muda, tidak boleh melihat kegiatan menulis sebagai hal memberatkan dan tidak memiliki efek positif. Menulis adalah bagian dari hidup kita. …, Dan, kata yang tinggal dalam tulisan, tidak lari ke mana-mana. (Elvan, 98)
Akhirnya, Menggaris dari Pinggir yang dinarasikan dengan baik oleh EdP, membawa pembaca pada sebuah kesadaran agar mampu bersosial dengan keadaan yang menjemukan. Melalui ide, realitas butuh dijamah dan diperbaiki agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dengan cara pandang masing-masing. Namun, kenyataan-kenyataan yang dinarasikan di dalam Menggaris dari Pinggir, harus diperhatikan dan tugas kita, pembaca, harus mampu berbenah diri menjadi lebih baik agar mampu saling mengapreasiasi dan salah satunya adalah risalah karya ini.
Masikah Anda mengaggap remeh risalah ini? (Elvan, 35)

Judul Buku: Menggaris dari Pinggir
Penulis: Elvan De Porres
Penerbit: Malkas Media, 2017
Halaman: viiii + 102 hlm
ISBN: 978-6026515-13-1
*) Pogopeo, 2022

RESENSI BUKU: Ini adalah halaman resensi buku. Perasaanmu setelah membaca buku. Jika Anda sudah membaca buku, apa yang Anda rasakan? Tuliskan di sini. Sertakan foto diri, buat ilustrasi foto Anda dengan cover buku yang Anda resensi. Ada uang sebagai ganti pulsa sebesar Rp. 100 ribu dari Honda Banten. Kirimkan resensi Anda antara 700 – 1000 kata ke email: gongtravelling@gmail.com .


