Suasana Minggu sore di benteng bersejarah ini tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang menikmati indahnya sore dan dua turis asing asal Eropa Barat yang sibuk memotret pemandangan dengan kameranya.

Dari ketiga benteng di kawasan cagar budaya ini, Otanaha, Ulupahu dan Otahiya. Kami terlebih dahulu ke Benteng Ulupahu yang tidak terlalu jauh dari gerbang masuk.

Benteng Ulupaha berbentuk bulat tanpa atap, berdiameter 20 meter dengan dinding luar sekitar 3 meter, tinggi undakan untuk tumpuan pengintai 1,5 meter dan tebal dinding 1,5 meter. Di sekeliling benteng terdapat beberapa celah kecil untuk mengintai dan membidik senjata.

Ketika aku dan teman-teman naik ke atas gundakan, pemandangan indah terhampar di depan mata. Bentangan perbukitan hijau di sekeliling benteng sangat memanjakan mata.

Setelah puas berfoto dengan latar perbukitan, kami turun melewati jalan setapak menuju Benteng Otahiya. Sedikit berbeda dengan Ulupahu, Otahiya memanjakan kami dengan pemandangan Danau Limboto yang luas dan matahari sore yang mulai berwarna orange. Pemandangannya sangat cantik sekali.

“This place is nice,” kata turis asal Eropa Barat ketika melihat hasil jepretan di kameranya.
Matahari sudah semakin tenggelam, kami kembali naik ke atas untuk melanjutkan ke Banteng Otanaha. Bentuknya sama dengan benteng lainnya. Namun, di Benteng Otanaha terdapat pintu masuk yang berbentuk lonjong.


