Menjadi Pemateri di Sekolah Rakyat Surabaya: Membaca Dunia, Menuliskan Masa Depan

Oleh: Naufal Nabilludin

Beberapa saat setelah selesai bercerita tentang prosesku sebagai relawan Rumah Dunia dalam kegiatan Bimbingan Teknis Komunitas Literasi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, 28 Juli 2026 lalu, sebuah pesan WhatsApp masuk.

“Mas Naufal, kalau ingin mengundang Mas Naufal mengisi kegiatan motivasi literasi di sekolah kami, syaratnya apa nggeh?”

Aku cukup kaget membaca pesan itu. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa cerita tentang kebiasaan dan pengalaman selama berproses di Rumah Dunia yang selama ini kuanggap biasa saja ternyata bisa berkesan bagi orang lain dan membawaku kepada kesempatan baru.

Hari itu aku bercerita tentang proses yang selama ini kujalani. Tentang bagaimana buku membuatku mengenal banyak tempat yang belum pernah kukunjungi. Dari bacaan, perlahan muncul rasa penasaran terhadap berbagai daerah di Indonesia, kemudian tumbuh mimpi untuk mengunjunginya secara langsung.

Aku juga bercerita tentang mimpi untuk keliling Indonesia yang pernah kutulis ketika masih SMA, serta berbagai kesempatan yang beberapa tahun kemudian perlahan membawaku semakin dekat dengan mimpi itu.

“Kami berharap bisa mendapatkan wawasan dari Mas Naufal untuk adik-adik Sekolah Rakyat Surabaya,” kata Mbak Nilam, guru Bahasa Indonesia sekaligus Kepala Perpustakaan Sekolah Rakyat Surabaya.

Rupanya undangan itu tidak berhenti melalui pesan WhatsApp. Setelah kegiatan selesai, Ibu Prapti, Kepala Sekolah Rakyat Surabaya, menemuiku secara langsung. Beliau menyampaikan permintaan yang sama.

“Apa yang Mas Naufal ceritakan di sini, ceritakan lagi di sekolah kami.”

Rasanya semakin tidak percaya. Di satu sisi aku bersyukur karena mendapatkan kesempatan baru untuk berbagi. Di sisi lain, aku mulai memikirkan tanggung jawab dari kesempatan itu. Cerita apa yang sebaiknya kubawa? Pesan apa yang harus ditinggalkan kepada siswa setelah kegiatan selesai?

Selama melanjutkan Safari Literasi Jawa bersama Mas Gol A Gong, pertanyaan itu terus kupikirkan. Aku mulai memikirkan bagaimana cerita tentang membaca, perjalanan, mimpi, dan kesempatan dapat disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan adik-adik SD, SMP, dan SMA di Sekolah Rakyat.

Mas Gong kemudian memberikan satu pesan yang membuat konsep kegiatan itu semakin jelas.

“Di Sekolah Rakyat, kalau bisa ada pelatihan menulisnya juga.”

Aku mulai memikirkan kembali pesan itu. Aku juga ingin ada sesuatu yang mereka tinggalkan dalam bentuk tulisan.

Dari situlah aku kembali merefleksikan perjalanan sendiri. Beberapa tahun lalu, aku pernah menuliskan mimpi untuk keliling Indonesia, minimal mengunjungi setengah dari jumlah provinsi di Indonesia dan 15 negara. Ketika menuliskannya, aku sama sekali belum tahu bagaimana mimpi itu akan diwujudkan.

Namun, tulisan itu membuatku terus mengingat apa yang pernah kuinginkan. Menurutku, menulis membuat sebuah mimpi menjadi lebih jelas, lebih mudah diingat, dan lebih mungkin untuk terus dirawat.

Perlahan, konsep kegiatan di Sekolah Rakyat mulai tergambar.

Aku tidak ingin adik-adik hanya mendengarkan ceritaku saja. Aku ingin mereka mulai menuliskan mimpi mereka sendiri.

Untuk siswa SD dan SMP, bentuknya sengaja dibuat sederhana. Mereka cukup menuliskan salah satu impian yang ingin diwujudkan dalam satu kalimat.

Sedangkan untuk siswa SMA, aku mengajak mereka berpikir sedikit lebih jauh. Mereka akan menulis tiga bagian: tentang pengalaman masa lalu yang membentuk impian mereka, keadaan mereka hari ini, dan kehidupan seperti apa yang mereka inginkan di masa depan.

Dengan begitu, kegiatan ini tidak hanya menjadi sesi motivasi, tetapi setiap siswa akan menulis tentang masa depannya sendiri. Aku ajukan konsep itu kepada pihak Sekolah Rakyat Surabaya dan akhirnya bisa diterima.

Pada 25 Agustus 2026, aku dan Mas Gong berpisah di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Mas Gong melanjutkan Safari Literasi bersama istrinya, Bu Tias Tatanka, dan Penerbit MCM. Sementara itu, aku melanjutkan perjalanan ke Kota Bandung dan keesokan harinya kembali ke Surabaya menggunakan kereta api.

Menuliskan Mimpi Bersama Siswa SD dan SMP

Kamis, 27 Agustus 2026, akhirnya aku benar-benar berdiri di hadapan siswa Sekolah Rakyat Surabaya.

Kegiatannya dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama untuk siswa SD dan SMP dengan sekitar 150-an siswa. Sedangkan sesi kedua, setelah zuhur, untuk sekitar 200-an siswa SMA.

Aku memulai sesi pertama dengan membagikan beberapa hadiah. Suasananya ramai dan antusias. Aku kemudian memancing mereka dengan gambar ikon-ikon dari berbagai kota di Indonesia dan meminta mereka menebak nama monumen sekaligus daerahnya.

Ada Monas, Borobudur, Jam Gadang, Jembatan Suramadu, dan beberapa tempat lainnya.

Anak-anak gembira. Hampir semuanya antusias menjawab. Dari situlah aku mulai masuk ke ceritaku tentang mimpi keliling Indonesia. Aku bercerita bahwa dulu aku ingin mengunjungi banyak tempat di Indonesia. Masalahnya, waktu itu aku belum punya uang dan yang aku lakukan adalah “keliling Indonesia” lewat buku.

Semakin banyak membaca, semakin besar pula rasa penasaranku untuk melihat tempat-tempat itu secara langsung. Di situlah pesan tentang membaca coba kukemas.

Aku bilang kepada mereka, kalau kita punya mimpi, lalu membaca buku dan mencari tahu lebih banyak tentang mimpi itu, kita akan semakin tahu jalan apa yang bisa ditempuh untuk mewujudkannya. Aku juga memancing adik-adik yang suka membaca untuk menyebutkan buku yang mereka sukai dan siapa penulisnya.

Tanpa kuduga, ada seorang siswa SMP yang menyebut Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.

Aku cukup kaget. Menurutku, buku itu termasuk bacaan yang cukup berat untuk anak seusianya. Namun, dia membaca dan bahkan tahu apa yang dibahas dalam buku tersebut.

Setelah selesai bercerita dan berinteraksi, aku meminta mereka menuliskan impian masing-masing. Untuk adik-adik SD yang belum bisa menulis, aku meminta mereka menggambar cita-cita atau apa yang ingin mereka lakukan ketika besar nanti. Bagian inilah yang menurutku paling menarik.

Dengan imajinasinya masing-masing, mereka mulai menuliskan impian. Ada yang ingin menjadi tentara, polisi, guru, YouTuber, dokter, dan berbagai profesi lainnya.

Bahkan, dengan kepolosan siswa SD, ada juga yang menulis ingin menjadi sopir truk oleng. Haha.

Setelah selesai, beberapa anak kuminta maju ke depan untuk membacakan cita-citanya atau menunjukkan gambar yang sudah mereka buat. Mereka yang berani maju mendapatkan hadiah berupa snack. Anak-anak sangat antusias.

Satu per satu maju ke depan. Ada yang membacakan impiannya dengan percaya diri, ada yang masih malu-malu, dan ada juga yang hanya menunjukkan hasil gambarnya. Semuanya menarik.

Melihat mereka berdiri sambil memegang tulisan dan gambar tentang masa depannya masing-masing, entah kenapa aku sedikit terharu.

Hari itu, hampir semua anak menuliskan atau menggambarkan impiannya sendiri.

Mendengarkan Mimpi Siswa SMA

Selesai dengan keriuhan dan kepolosan adik-adik SD dan SMP, tantangan berikutnya sudah menunggu. Selepas zuhur, aku harus menghadapi hampir 200 siswa SMA. Tentu cara berkomunikasinya tidak bisa sama.

Untuk siswa SMA, aku mencoba mengajak mereka berpikir lebih reflektif.

Aku membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana mereka membayangkan hidup mereka 5–10 tahun ke depan? Ingin menjadi seperti apa? Berada di mana? Dan kehidupan seperti apa yang ingin mereka jalani? Beberapa siswa maju ke depan dan menjawab pertanyaan itu. Ada yang sudah cukup jelas dengan apa yang diinginkannya, ada juga yang masih belum tahu.

Dari situlah aku mulai bercerita tentang fase ketika lulus SMA. Tentang kebingungan ingin melanjutkan ke mana, memikirkan biaya kuliah, mencoba beberapa kesempatan, hingga akhirnya jalan itu perlahan terbuka.

Aku kemudian menunjukkan salah satu tulisan lama tentang mimpi yang pernah kutulis. Dari tulisan itu, aku ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang kita tulis hari ini bisa menjadi pengingat tentang ke mana kita ingin berjalan. Aku menekankan kepada mereka bahwa mimpi yang dituliskan akan lebih mudah diingat. Namun, tentu tulisan itu tidak akan bekerja sendiri. Kita tetap harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita inginkan, belajar, bekerja keras, mencoba berbagai kesempatan, dan berani mengambil jalan ketika kesempatan itu datang.

Sama seperti adik-adik SD dan SMP sebelumnya, siswa SMA juga kuajak menuliskan mimpi mereka. Bedanya, kali ini mereka menulisnya dalam tiga fase: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Aku meminta mereka melihat kembali pengalaman yang pernah mereka lalui, melihat posisi mereka hari ini, kemudian membayangkan kehidupan seperti apa yang ingin mereka jalani beberapa tahun mendatang.

Untuk membuatnya lebih menarik, aku meminta mereka membayangkan sedang memegang sebuah “pensil ajaib”. Pensil yang bisa digunakan untuk menuliskan kehidupan seperti apa yang mereka inginkan di masa depan. Semakin jelas dan detail mereka menuliskannya, semakin mudah pula mimpi itu untuk dibayangkan, diingat, dan diperjuangkan.

Semua siswa mulai menulis. Setelah selesai, beberapa orang aku minta maju ke depan untuk membacakan tulisannya.

Di sinilah bagian yang tidak aku duga. Ketika mereka mulai bercerita, ternyata tulisan yang dibuat jauh lebih dalam dari yang aku bayangkan.

Ada siswa yang bercerita pernah putus sekolah karena persoalan biaya, kemudian bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat dan sekarang bercita-cita menjadi dokter. Ada juga yang bercerita dengan menggebu-gebu ingin menjadi hakim sekaligus aktivis feminis internasional dan membela hak-hak perempuan. Ada pula siswa yang bercerita pernah ingin kabur dari asrama Sekolah Rakyat. Namun, akhirnya dia memilih bertahan karena sadar masih ada mimpi yang harus dikejar.

Siswa lain ingin menjadi psikolog. Dia bahkan sudah membayangkan program yang ingin dibuat ketika nanti berhasil: membuka layanan psikologi gratis dua kali dalam sebulan.

Beberapa siswa membacakan ceritanya dengan mata berkaca-kaca. Ada juga yang di tengah-tengah membaca harus mengambil jeda sejenak sambil menahan tangis.

Aku yang berdiri di depan ikut terdiam mendengarkannya. Sesi itu membuat hatiku tersentuh. Aku jadi sadar bahwa di balik wajah-wajah yang sejak awal terlihat bercanda dan tertawa, masing-masing ternyata membawa cerita hidupnya sendiri.

Dalam hati aku hanya bisa berdoa, semoga apa yang mereka tuliskan hari itu benar-benar menemukan jalannya dan bisa terwujud di masa depan.

Aku berharap kegiatan hari itu setidaknya bisa mengajak mereka berhenti sejenak dan merefleksikan hidupnya sendiri. Bahwa apa pun keadaan yang sedang mereka jalani hari ini, mereka tetap berhak punya mimpi yang besar tentang masa depan.

Aku juga menyarankan kepada Mbak Nilam dan Ibu Prapti agar tulisan-tulisan itu bisa dikumpulkan dan dibukukan. Hari ini mungkin hanya terlihat seperti tulisan sederhana di atas selembar kertas. Tapi siapa tahu, lima atau sepuluh tahun ke depan, tulisan-tulisan itu justru menjadi harta karun, menjadi saksi tentang mimpi yang pernah mereka tuliskan, perjuangkan, dan suatu hari benar-benar mereka capai.

Naufal Nabilludin

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==