Soal benang yang berjurai-jurai itu sungguh ruwet di mataku. Terbayang setelah dicuci, walau cuci tangan, akan kusut selalu. Sewaktu mendesainnya aku sudah berencana memotong setengah panjang juraian. Setelah hubby melihat, ia melarang memotongnya dan meminta dibiarkan ruwet saja. Aku agak sebal melihatnya. Maksudnya melihat jurai yang ruwet itu. Kalau ke hubby tak mungkinlah aku sebal, nanti siapa yang menggombaliku saat aku ngambek. 🤣

Akhirnya aku ambil jalan tengah, juraian itu diikat kecil-kecil. Tentu saja akan menambah pekerjaan buatku, membagi helai benang-benang lalu mengikatnya satu demi satu dengan ketinggian simpul rata. Siapa yang akan melakukannya?

Pastilah aku. Mungkin aku bisa meminta tolong anak-anak untuk membantu, walaupun mereka akan bertanya untuk apa diikat kecil-kecil? Mengapa tidak dipotong pendek saja jika tahu kan kusut? Mengapa menghabiskan waktu untuk hal-hal indah dan etnik? Apakah setelah diikat kecil-kecil begitu akan menambah lebih indah?

Aku akan jawab bahwa saat menyimpul itu seperti ritual bagiku. Bukan hanya menalikan benang semata. Setiap simpul, bahkan saat mengurai benang kusutnya aku melatih kesabaran dan kesetiaan. Sepanjang waktu melakukannya aku mengingat kebaikan ayah mereka. Begitu terurai kekusutan, aku berdoa agar lepas pula kesulitan-kesulitan yang datang. Dengan menyelesaikan kemeja ini aku berharap menyimpan bakti untuk suami, semoga terkumpul poin-poin amal di liga akhirat kelak.

Apakah ini kategori bucin to the max? Mungkin sebenarnya aku egois, karena kulakukan untuk kepentinganku. Hasil akhirnya tetap untukku sendiri, meskipun aku juga mempertimbangkan hubby suka memakainya. Aku berusaha menerima usulannya menambah ini itu atas desainku. Tak apa, sepanjang ia suka aku akan berusaha mewujudkannya.

Jadi begitulah tugasku berikutnya, menyisiri helai benang dan menyimpulnya dengan cinta.
Tsaaah … *
Tias Tatanka



