Merespons Realitas dengan Cerpen ala Ade Ubaidil

Setidaknya ada dua cerpen yang mengangkat problematika manusia (khususnya lelaki?) di usia 26, yakni Seni Hidup Lelaki Bujang dan Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26? Problematika itu ialah pernikahan dan pekerjaan. Pada usia itu, yakni usia 26, hal-hal semacam itu lumrah terjadi.

Ada perbedaan yang mencolok antara orang-orang kita dan orang-orang luar negeri saat berusia 26. Apa itu? Kalau negara lain berkompetisi dalam ilmu pengetahuan, di kampung saya malah berkompetisi soal pacar atau istri siapa paling bahenol (halaman 27).

Inilah realitas yang terjadi di masyarakat kita. Orientasi kita, baik yang tinggal di pusat kota ataupun di pelosok desa, bukanlah ilmu pengetahuan ataupun peradaban, melainkan hal ihwal yang berkait erat dengan syahwat dan seks.

Meski judul buku ini adalah Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26?, tidak serta-merta membahas problematika-problematika yang terjadi pada manusia berusia 26 saja. Ada hal lain yang diangkat dalam buku ini, yang tentu saja merupakan bentuk respons atas relitas yang terjadi.

Melalui tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpennya, penulis mengkritik pelbagai kalangan masyarakat. Cerpen yang berjudul Pesan Ayah mengkritik perilaku buruk seorang kepala daerah. Tokoh ayah, seorang walikota, tak mau kehilangan jabatannya, sehingga ia menyuruh anaknya untuk menjadi calon walikota berikutnya. Saat sang ayah mendekam di penjara karena korupsi, sang anak terpilih menjadi walikota berikutnya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sang anak mengikuti jejak ayahnya, tersangkut kasus korupsi juga. Ternyata, menjadi pejabat pemerintahan bukan lagi soal korupsi atau tidak, tetapi sudah ketahuan atau belum (halaman 51).

Pada cerpen Imam Masjid, kita dihadappkan kepada realitas yang terjadi pada kehidupan beragama. Di sebuah kampung bernama Cibelenger, pemilihan imam masjid merupakan sesuatu yang sakral. Para ustaz dites mengaji di hadapan imam masjid sebelumnya sambil ditonton masyarakat. Saat mengaji secara gaib mereka diingatkan kepada dosa-dosa yang mereka lakukan. Pada akhirnya mereka tak bisa mengaji dengan benar dan gugur dalam pemilihan. Tak layak menjadi imam masjid. Ternyata, orang yang selama ini berpenampilan religius dan dianggap alim pun belum tentu berhati suci dan berperilaku baik.

Cerpen-cerpen dalam buku ini memperlihatkan bahwa realitas sosial yang terjadi di masyarakat kita banyak yang tidak beres, membuat kita tak puas dan kecewa. Namun di sisi lain menyadarkan kita bahwa kita harus berusaha dan mengubah realitas sosial yang ada menjadi lebih baik.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==