Merespons Realitas dengan Cerpen ala Ade Ubaidil

Ardian Je – wartawan golagongkreatif

Cerpen, maupun karya sastra lainnya, bagaimanapun takkan bisa lepas dari realitas, kendati ia bersifat fiktif. Sefiktif-fiktifnya cerpen sangat mungkin bertalian dengan realitas. Ia bisa lahir oleh rasa ketakpuasan dan kekecewaan sang penulis terhadap realitas sosial yang muncul di sekitarnya. Dengan penuturan yang deras namun tak menenggelamkan pembaca dengan kalimat-kalimat yang menceramahi, penulis merespons realitas itu dengan kritik yang halus.

Makna Merdeka Bagi Ade Ubaidil

Naufal Nabilludin – wartawan golagongkreatif

17 Agustus menjadi momentum paling tepat untuk merenungkan kembali apa itu makna merdeka. Sebab setiap orang dari latar belakang yang berbeda pasti memiliki pemaknaan yang berbeda pula.

Kali ini saya mewawancarai Ade Ubaidil—penulis Novel adaptasi Yuni tentang makna merdeka dari sudut pandang sebagai penulis.

Berkunjung Ke Rumah Baru Ade Ubaidil

Saepurrohman – wartawan golagongkreatif.com

Selepas rapat acara 17 Agustus tepatnya watu Magrib, Arif kepala asrama Rumah Dunia mengajak relawan internal untuk berkunjung ke rumah Ade Ubaidil—konon kunjungan ini adalah bentuk syukuran.

Usai mengerjakan salat Magrib, Arif, Naufal, Andin dan saya siap-siap bergegas ke rumah Ade. Aku dibonceng Naufal, dan Andin dibonceng Arif. Aku minta dibonceng musabab daerah Cilegon penuh dengan debu dan mobil besar-besar.

Ade Ubaidil, Penulis Banten dan Surat Masa Lalunya

Ahmad Wayang – wartawan golagongkreatif.com

Pertama kali melihat judul buku kumpulan cerpen Surat yang Berbicara tentang Masa Lalu (Basabasi 2017) karya Ade Ubaidil, saya menyangka bahwa buku ini tidak akan jauh berbicara soal cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang rindu, atau patah hati. Tapi saat selesai membaca buku ini, ternyata saya salah besar. Ceritanya justru jauh dari ceria-cerita yang saya sebut di atas tadi. Pada buku kumcer ini, di dalamnya penuh dengan pesan moral dan kritik.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)