Tatan Daniel sebagai seorang penyair yang telah lama menulis puisi, piawai menulis dengan indah namun getir bagi sebuah perjalanan hidup. Buku ini pun ia dedikasikan bagi sahabat-sahabat seniman yang lebih dulu pergi di antaranya karena Corona. Hal yang menjadi pelajaran bagi kita semua tentang kehidupan pada masa tersebut. Pelajaran tentang kehilangan, tentang bertahan hidup dan menjaga kehidupan juga arti normal baru.

Sebagai pembaca saya tertarik pada beberapa puisinya yang mengisyaratkan momen-momen kecemasan saat pandemik lalu diantaranya sebuah puisi yang berjudul Ini Senja Mengapa Nyeri?
Magrib berselawat di hutan
Setelah maklumat kematian
Lirih azan
Bersahutan
Hayya alashalaah
Ini senja mengapa nyeri?
Di manakah hujan berhenti
Bunga tanjung berserakan
Hayya alalfalaah

Puisi yang sangat menyentuh, mengingatkan kita akan maut yang dekat, masa-masa yang mencekam pada magrib yang sepi dan bersahabat. Sebuah bayangan akan maut yang mengintai siapapun, yang membuat kita waspada tapi entah pada apa yang tak terlihat mata.



