Masa-masa itu sungguh sangat indah. Biasanya kami, para relawan Rumah Dunia, setiap tiba hari Kamis atau Jumat, kami akan mengirimkan tulisan berupa cerpen, esai atau puisi ke media cetak. Lalu pada Minggu pagi kami akan menunggu dengan harap-harap cemas. Kira-kira karya siapa yang akan dimuat.

Saat saya jadi relawan, jabatan Presiden Rumah Dunia masih dipegang Firman Venayaksa dan tak berapa lama berselang, Ibnu Adam Aviciena diangkat jadi Presiden RD menggantikan Firman. Wakil Presiden Ibnu saat itu Langlang Randhawa.

Relawan senior seperti Piter Tamba, Bahroji, Om Dedi (Mang Beti) dan Muhzen Den masih tinggal di Rumah Dunia. Sementara angkatan relawan baru pada masa itu ada saya, Abdul Salam HS (saat itu Salam masih sekolah di SMA PGRI Serang), Oky Daroki, Lanang Sejagat dan Rozy Kembara. Rozy kemudian memilih pindah ke Jogja.

Di Minggu pagi itu, pada 11 Oktober, Salam membangunkan saya. “Yang, bangun! Cerpen kamu dimuat di Radar Banten, nih!” kata Salam bersemangat. Mendengar berita itu, saya langsung bangun. Waktu itu saya masih antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Salam. Ia kembali meyakinkan saya, bahwa memang karya saya dimuat di koran. Salam menarik tangan saya menuju panggung utama Rumah Dunia.

Salam kemudian menunjukkan halaman koran yang memuat cerpen saya. Seketika saya langsung girang saat membaca ada nama saya di sana. Salam memberikan selamat pada saya dan juga relawan lain. Bukan main senangnya saya waktu itu.

Beberapa menit kemudian Mas Gong datang ke panggung dan seperti biasa, Mas Gong mengajak relawan berdiskusi sambil sarapan. Mas Gong juga memberikan selamat pada saya. Diskusi pagi itu sekaligus membahas cerpen Sang Biduan.
“Mau ngga cerpen kamu saya kasih masukan?” tanya Mas Gong. Tentu saja saya mau. Selesai Mas Gong membaca cerpen itu, Mas Gong memberikan masukan. Tentu saja saya dan para relawan, merasa sangat senang karyanya dapat masukan dari sang guru menulis.

Pernah juga cerpen saya yang lain, yang sudah dimuat di koran, berjudul “Cucu, Sang Pemimpi Jadi PNS” langsung dikoreksi oleh Mas Gong, yang memberi catatan pada cerpen saya yang dimuat di koran. Hingga kini arsip coretan dari Mas Gong masih saya simpan sebagai kenang-kenangan.
Saya selalu merindukan suasana pagi di Rumah Dunia: sarapan pagi dengan Mas Gong dan para relawan, sesekali Bu Tias Tatanka juga ikut gabung, sambil mendiskusikan banyak hal; tentang karya, kegiatan RD, kisah-kisah asmara relawan, termasuk tentang Banten tercinta.

Proses Kreatif Penulisan Sang Biduan
Saya ingin bercerita sedikit tentang proses kreatif cerpen Sang Biduan. Ide awal cerpen ini muncul berdasarkan ingatan atau pengalaman saya saat masih SD. Masa-masa itu di kampung saya, di Kecamatan Kibin, mungkin juga di beberapa daerah lain, sedang ramai-ramainnya organ tunggal. Setiap kali ada orang hajatan, selalu ada hiburan dangdut. Salah satu penyanyi organ tunggal yang sering diundang di kampung saya bernama Susi. Dia penyanyi paling muda dan cantik. Mungkin umurnya masih 18. Saya juga pernah menyaksikan orang ribut saat berjoget berasma biduan di panggung.

Lain hari saya mendengar dan melihat perjuagan seorang laki-laki yang bekerja di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang sebagai penarik gerobak. Atau tukang jasa angkut barang. Atas dua ingatan peristiwa tersebut, muncul ide untuk dijadikan cerpen tentang biduan. “Sang Biduan”, terdengar menarik untuk sebuah judul. Waktu itu saya baru menemukan judulnya saja. Judul itu saya simpan. Sambil terus memikirkan alur ceritanya. Setelah menemukan alur ceritanya, saya tak langsung mengeksekusinya dalam bentuk cerpen. Hanya dalam poin-poin penting saja.

Setelah dipikirkan dengan matang, dan ketemu ending-nya, malam hari saya mulai menulis. Rasa-rasanya waktu itu–kalau tak salah ingat–saya menyelesaikan cerpen Sang Biduan sekali jadi. Mungkin satu jam lebih. Ketika sudah jadi, saya baca ulang kembali. Setelah dirasa sudah jadi, saya kirim ke media cetak Radar Banten. Kalau tak salah ingat, waktu itu honor satu cerpen di Radar Banten Rp.50.000,-. Lumayan untuk ukuran kantong mahasiswa saat itu, sebagai uang jajan.
Nah, begitulah kira-kira proses kreatif saya saat menulis cerpen Sang Biduan. Salam literasi.



