Tampu Bolon Suvardi.
Di Bukit Barisan Semua Cerita Bermuara
Di Bukit Barisan
kutemui wajahmu lelah mencari nafkah tapi kasihmu melaut rasa takkan terbelah mataku ini belum lagi rabun pada kenangan yang telah lama lesap ke dalam kabut pagi yang silam dan kelam
Sejauh muara Sungai Rawas Merpati silih berganti bernyanyi menautkan seberang satu dengan seberang lainnya mengaliri sungai kelam rembulan sabit malam
Di Bukit Barisan
kulihat kembali wajahmu hitam dan keriput
karena terik juga usia, demi hidup bahagia, ikhtiar ialah jalannya
Di Bukit Barisan
semua cerita bermuara, tatal di wajah berbuah rupiah
gubuk kecil menidurkan keluh dan kesah
Di Bukit Barisan
langit telah menghitam basah,
resah pun buncah Ayah…Pulanglah!
hujan kini t’lah tumpah
/Bukit Ulu, 26 Oktober 2018


Tampu Bolon Suvardi.
Balada Candi Lesung Batu
Hujan jatuh
sungai menggigil ini bersimpuh, menjamah doa dari hulu
mengendap dalam rongga paru-paru lesu
bak Kenanga layu di ujung subuh
Kendati Emas dan Uranium menikam jantung darah,
bidadari berselendang menari Tarian Gending Sriwijaya
dari langit Balaputra Dewa di payungi purnama
Mengeja sejarah masa silam yang gemilang
tapi kini sejarah generasinya malang di pelipis mata
sesak dan peluh menjadi saksinya
Bila masa terus kucumbui duka lara
yang kian kuncup terlalu lama ini?
bukti kesabaran, kesantunan, dan keberanian di masa silam
hingga sejuta hikayatnya hari ini kehilangan jiwanya
/Lesung Batu, 21 Mei 2018


Tampu Bolon Suvardi
Di Ketinggian Jerambah Muara Rupit
setiap bekas jejakku terlukis di tubuhmu aku jadi tak yakin,
karena ragamu dibangun atas kehendak Belanda
kini kian renta termakan usia
untuk saat ini, kau terlalu rapuh untuk
kujadikan layar dalam mengarungi samudera lepas
di ketinggian Jerambah Muara Rupit kugambarkan tubuhmu dalam sketsa rembang petang yang temaram
biarlah sepasang Belibis bersua denganmu
hingga ke muara berikutnya
sebelum bersiap meninggalkanmu pergi,
kupahat doa beserta harapan dengan sebilah bambu kuning membentang di tubuh berpasirmu
kepada penghulu pelepas resah di dada, aku ialah tamu,
di antara berjuta orang berulang kali melintasi tubuhmu
mengobati rindu yang sendu di bibir waktu
/Pinggiran Sungai Rawas, 14 Februari 2018


Tampu Bolon Suvardi
Danau Rayo
Danau Rayo
bila kulukiskan engkau dalam sketsa wajah,
wajahmu bulat kuali di rumah-rumah sekeliling bibirmu
Dulu, belantara seperti kanopi
menyimpan berjuta nyawa di rindangnya
Jelutung, Medang, Menggeris, Kulim, Tembesu,
Gaharu tumbuh bersujud mengaji rindu diasuh-Mu sepanjang waktu
Dulu, kepak kehidupan membentang rompok kecil Pagar Remayu seperti kabung, rompok mengundang semut mencecap manisnya
Masa silam itu, rompok kecil menyimpan hikayat Bujang Kurap
cucu Datuk Saribijaya dan Putri Sari Banilai
dari kerajaan nan jauh Pagaruyung,
ia hidup penuh cinta dan amat baik budinya
Danau Rayo
kau tenggelam 1111 tahun yang lalu,
hingga kini nenek moyang menemui ajalnya
meninggalkan cerita pengantar tidur bagi anak cucu
di Karang Anyar dan Karang Waru agar terus memetik hikmah, hidup harus selalu baik perangainya
Pagar Remayu
kau tenggelam karena pelepah kelapa
pergi meninggalkan cerita!
/Karam Panggung, 20 September 2019


Tampu Bolon Suvardi
Bujang Kurap
Bujang Kurap
pada lembah Titiang Dalam pada Tampuy Rimba
pada Buah Siuh di belantara Barisan
diriku merabankan rindu kepadamu di antara embun
Saban pagi Kutilang, Rangkong, Enggang, Punai
bersahut-sahutan dirimbunya Napal Licin jernihnya Danau Rayo
Bujang Kurap
ketabahanmu padi yang renyah
meski Putri Malu dan Ilalang menggoda kau selalu membalasnya dengan cinta karena hanya dengan cintamulah menjadi pesan bahwa hidup harus selalu baik perangainya
Bujang Kurap
tengah sunyi dan heningmu hinaan bak tangkai lapuk kapan saja kesombongan bak napal akhirnya sirna kapan saja
Bujang Kurap
t’lah kupahat namamu
pada meranti tak mungkin membenci
pada batu tak mungkin membeku
pada mata terus terjaga hingga
akhirnya pada telaga menyembuhkan dahaga
/Karang Anyar, 01 Desember 2020


Tampu Bolon Suvardi. Lahir, besar, dan berdikari di Karang Anyar Musi Rawas Utara Provinsi Sumatera Selatan. Alumnus S1 Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Batanghari Jambi Tahun 2016, S2 Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Soekarno Bengkulu tahun 2019. Puisi “Menanti dan Patah Hati” beroleh juara 1 lomba cipta puisi Se-Indonesia yang di taja Unit Kegiatan Kesenian Universitas Negeri Padang. Cerpen “Balada Aida” di terbitkan Perpusnas Press Jakarta. Penghargaan Seniman Berprestasi Disbudpar Musi Rawas Utara tahun 2024. Penghargaan Bupati Musi Rawas Utara Sebagai Pelaku Seni Yang Melestarikan Objek Pemajuan Kebudayaan Musi Rawas Utara. Lebih dekat dengan Vardi Fb. Suvardi Tampu Bolon, Ig. Vardi_Rumi, Surel. lidiavardi@gmail.com, no WhatsApp. 0822-6697-1986.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


