Mungkin, dari awal hingga tiga per empat cerita, kita akan mengira bahwa Marnie hanyalah tokoh imajiner yang ada di kepala atau mimpi Anna belaka. Atau mungkin kita menganggap ia adalah sesosok hantu blasteran penghuni mansion tua di tepi rawa—sekaligus kita juga mengira bahwa film berdurasi satu setengah jam lebih itu ialah sebuah film anime horor. Tapi di seperempat cerita hal itu terbantahkan. Ia adalah sebuah drama yang mengusik psikologis kita tentang betapa pentingnya keberadaan orang tua di tengah-tengah kehidupan seorang anak.

Dan celakanya, tata laku yang buruk itu seperti diwariskan turun-temurun dari satu silsilah pohon keluarga—dan seseorang, entah dari generasi keberapa dari keluarga itu, harus memotongnya, menghentikannya agar tidak terjadi kesalahan dan luka hati yang sama.

Marnie dan Anna sendiri adalah dua tokoh yang sangat memahami betapa mengerikannya kesepian dan kesendirian. Tapi untungnya mereka juga adalah tokoh yang terus bersikeras bertahan dan mencari teman itu. Karena mereka adalah orang yang kesepian, mereka jadi paham betul betapa berharga orang yang ada di dekat mereka. Dan kita harus bisa belajar banyak tentang hal itu dari mereka.

Orang tua harus menemani anaknya di masa kanak-kanak anaknya, niscaya ia akan menemani orang tuanya di masa tua orang tuanya. Sebaliknya, jika orang tua mengabaikan anaknya di masa kanak-kanak anaknya, sangat bisa jadi ia akan melakukan hal yang sama di masa tua orang tuanya kelak. Itu sebuah hukum karma. Dan itu memang masih ada di pikiran dan realitas kita.

Rumah Baca Bojonegara, Senin, 1 Mei 2023 23:19 WIB
Ardian Je, esais; relawan di Rumah Dunia; kontributor di golagongkreatif.com; kolomnis di kurungbuka.com; pendidik di SMP Unggulan Uswatun Hasanah Cilegon. Buku mutakhirnya bertajuk Mendekatkan Siswa pada Buku (Gong Publishing, 2020). Kini ia tengah menyiapkan buku kumpulan esai terbarunya.

