Ruang kerjaku ini bagai istanaku. Juga istana bagi rayap. Seyiap setahun sekali, jika kutinggal lama traveling, selalu harus memberi korban puluhan bahkan ratusan buku kepada rayap. Kadang aku sedih. Tapi, bagaimana lagi? Segala cara sudah kutempuh. Di Banten, rayap memang bikin “gila”. Sudah ratusan buku, mungkin mendekati seribuan, yang habis dimakan rayap. Buku-buku tua berumur 30 tahunan, yang aku beli saat masih di SMA (1980) jadi korban.



Ruang kerjaku ini juga jadi spot foto yang menarik dan unik. Setiap tamu yang datang, selalu berfoto di sini. Ada banyak buku-buku yang aku beli saat masih SMA. Ada mesin tik, yang melahirkan novel “Balada Si Roy”. Juga buku-buku yang aku tulis.

Para relawan Rumah Dunia jika konsultasi kreatif, misalnya bedah cerpen, membuat film pendek, bahkan tentang masa depan mereka di ruang kerjaku. Ruang kerjaku, semoga jadi tempat yang penuh berkah. Dulunya ruangan ini jadi kamar relawan Rumah Dunia.


Ruang kerjaku ini adalah “perpustakaan rumah”. Inilah literasi keluarga, dimana kami menimba ilmu di sini. Keempat anakku tidak semuanya menyukai ruang kerjaku ini. Putri pertama yang kuliah di Chna dan putra kedua yang sekolah di Abu Dhabi, menyukai ruangan ini. Tapi yang ketiga dan si bungsu tidak; mereka lebih asik di kamarnya sendiri dengan dunia digital.



Tahun 2021 hingga 2025 aku semakin sibuk sejak jadi Duta Baca Indonesia. Buku-buku yang harus aku selesaikan seperti novel Bulan Bulan Perak, Orakadut, dan Jawara Terakhir tertunda lagi. Bahkan kini di folder sudah ada calon buku baru, yaitu Gong Speed, dan Aku Tunggu Kau di Mercusuar . Tapi untuk merawat semangat menulis, ruang kerjaku jadi lokasi tetap untuk Kelas Menulis Gol A Gong secara online atau webinar.


Semua penulis memiliki ruang kerjanya – tentu memiliki ciri khas. Saya pernah memasuki banyak ruang kerja penulis. Ada yang satu ruangan khusus penuh dengan buku hingga ke lantai, bahkan meja kerjanya seolah terdesak. Ada yang rapi ibarat kantor direktur perusaaan atau pejabat. Ada yang di sudut ruang keluarga – karena rumahnya kecil. Ada yang berpidah-pindah dari ruang kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, hingga teras karena bermodalkan laptop saja.


Aku termasuk beruntung, karena tinggal di kampung. Tanahnya masih murah. Satu rumah khus untuk ruang kerjaku plus perpustakaan pribadiku. Surga bagiku. Ruang kerjaku berada di perpustakaan rumahku.
Gol A Gong

