Ini kegiatan yang sebenarnya kulakukan sejak anak pertama kami lahir pada 1998, terus bergulir hingga sekarang. Membaca buku, menggambar, berkreasi, bahkan belajar mengaji pun, dilakukan dengan bersenang-senang. Jadi aku ingin anak-anak di lingkungan Rumah Dunia – Kampung Ciloang, Kota Serang, ini merasakan juga kesenangan mempelajari sesuatu.

Untuk membuat soal matematika, aku menggunakan stempel putar yang bisa disetel hingga memiliki sekian banyak kemungkinan soal berbeda. Berhubung bisanya beli yang murah meriah supaya dapat banyak, kualitas stempel pun agak rendah. Beberapa kali tercetak soal yang tidak segaris. Hahaha.
Untunglah anak-anak mengerti dan tetap suka dengan tantangan mengerjakan soal yang dicetak stempel. Ini sebenarnya biar aku nggak capek nulis soal. Hahaha. Khusus untuk perkalian ribuan dengan ratusan atau puluhan, aku tetap menuliskan soalnya secara langsung.

Anak bungsu kami yang masih liburan pun memanfaatkan flash card yang kubeli. Ia bercerita antusiasme anak-anak dan kemajuan kosa kata mereka. Aku bersyukur karena ekspektasiku tercapai, anak-anak itu dengan cepat mengenali angka dalam bahasa Inggris.
Aku mengatur kelas dimulai setelah ashar, agar anak-anak yang sekolah agama masih punya waktu mengikuti kegiatan. Biasanya mereka baru muncul sepulang sekolah agama, tapi di saat sama aku sudah beberes mau balik rumah. Dengan memundurkan waktu anak-anak yang sekolah agama masih berkesempatan ikut les. Cuma risikonya aku pulang jelang maghrib.


