Saat dua anak terbesar merasa “kenyang” dengan imajinasi, mereka memilih buku lain yang lebih menantang untuk dibaca sendiri. Keduanya hanya tertawa geli melihat dua adiknya masih “keracunan” imajinasi rumah kue. Sampai akhirnya dua anak terkecil pun merasa cukup dan “kenyang”.

Kini, saat anak-anak kami sudah dewasa, aku berganti membawakan cerita buat anak-anak kecil kampung Ciloang di lingkungan Komunitas Rumah Dunia berada. Caraku membaca mengalir saja, kadang sesuai cerita dalam buku, kadang aku hanya melihat gambar dan menceritakan versiku sendiri.

Dalam beberapa kesempatan aku minta mereka membacakan buku untukku. Meskipun belum bisa membaca sama sekali, aku memosisikan mereka sebagai pembaca. Tentu saja aku harus memancing dengan kata-kata yang sering kugunakan saat membacakan buku itu ke mereka sebelumnya. Biasanya anak-anak dapat meneruskan pancingan kata-kata itu menjadi kalimat sederhana.

Alih-alih bosan mendengar kisah yang sama dari sebuah buku, aku menemukan kisah baru yang dibuat oleh anak-anak ini. Sama seperti kami dan anak-anak kami, aku ingin mereka pun menemukan banyak hal dengan membaca buku. ❤️


