Rumah Dunia, Tempat Impian yang Saya Cari sejak Kecil

Sialnya, saya tak bernasib demikian. Saya lahir prematur di usia kandungan tujuh bulan. Badan saya kecil—untuk tidak menyebut kurus kerempeng. Fisik saya lemah. Ketika bermain dengan anak-anak sebaya pun saya sering jadi bulan-bulanan mereka. Jadi tak heran jika orang-orang punya anggapan bahwa saya takkan bisa menjadi orang berguna. Beruntungnya, ketika saya masuk sekolah dasar, saya cukup berprestasi di bidang akademik. Tapi, itu bukan hal menarik bagi orang-orang di sana. Pandangan orang-orang di kampung tetap sama: otot lebih baik daripada otak!

Sejak menyadari hal itu saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah ada sebuah tempat yang tidak menjadikan kekuatan fisik sebagai satu-satunya kelebihan? Adakah tempat yang lebih mengagungkan otak daripada otot? Adakah tempat yang tepat untuk mengembangkan diri dan kreativitas? Adakah tempat yang membuat pandangan kita terhadap dunia menjadi luas bahkan tak terbatas?

Tahun 2011 saya sah menjadi mahasiswa pendidikan di IAIN (kini UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Saya sengaja mengambil jurusan pendidikan karena jika setelah lulus nanti saya menjadi guru, maka saya akan bekerja sesuai dengan kemauan dan kemampuan saya. Pekerjaan tersebut tak menuntut banyak kekuatan fisik, sebaliknya yang sangat dibutuhkan adalah sesuatu yang sangat berkaitan dengan otak—meski kemampuan otak saya pun tak seberapa.

Di awal tahun 2012 saya bergabung dengan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-19. Sejak pertama kali mengikuti kegiatan di Rumah Dunia (saya menonton sebuah pertunjukan pembacaan puisi—yang kemudian saya tahu bahwa pembacanya adalah—Sosiawan Leak dan bedah buku puisi) saya merasakan atmosfer yang berbeda. Di sana banyak orang berambut gondrong (saya juga suka gondrong), penampilannya nyentrik, pengetahuannya luas dan memiliki cara pandang yang berbeda. Ditambah lagi ada nasi goreng dan sekuteng gratis! Pas sekali buat mahasiswa perantauan yang lagi mondok seperti saya.

Karena sering bertemu dan belajar dengan orang-orang hebat yang ada di dan datang ke Rumah Dunia (RD), saya perlahan-lahan mulai suka membaca buku, membeli buku (dari ongkos bulanan yang diberi orang tua) dan menulis. Sering juga saya menginap dan bacakan ayam bakar di RD bersama para relawan. Abdul Salam, salah satu relawan, sering juga mengajak saya untuk berdiskusi karya dan budaya, ngopi di alun-alun dan menggombali cewek-cewek. Lama-kelamaan saya ingin jadi relawan RD.

Di akhir tahun 2012, saya diajak bergabung menjadi relawan langsung oleh Mas Gol A Gong. Dan hal itu memberikan saya banyak sekali pelajaran hidup. Selain belajar membaca dan menulis, para relawan pun diajarkan berbicara lewat kegiatan Orasi Literasi, sambil ditemani nasi goreng dan mie tektek, tentu saja.

Tak hanya itu, kami juga belajar cara menghadapi tamu, menjadi pembawa acara, moderator hingga narasumber. Kami juga belajar untuk mengonsep acara, menjadi ketua pelaksana, mengajari anak-anak Ciloang keterampilan yang kami miliki, menyunting tulisan sendiri dan orang lain, menata letak buku, membuat sampul buku sendiri, mencetak sendiri hingga menjualnya sendiri. Belum lagi pengalaman dan pelajaran hidup yang saya dapat dari Tur Literasi Jawa Anyer-Panarukan (menemani Mas Gong memberi pelatihan menulis di puluhan kota di pulau Jawa selama hampir dua bulan) dan menjadi asisten Mas Gong dalam kegiatan Gong Traveling (memberikan pelatihan menulis catatan perjalanan di Singapura). Luar biasa!

Tak heran, meski masih kuliah, para relawan sering diundang menjadi pengisi acara, juri dan pembicara di kegiatan-kegiatan literasi dan sastra di komunitas, sekolah, universitas hingga instansi selevel kota hingga provinsi. Itu semua berkat pendidikan yang diberikan RD, dari para pendiri, penasehat hingga para relawan senior.

Setelah lulus kuliah dan menikah dan menjadi guru, saya selalu berusaha untuk menyebarkan semangat literasi yang saya dapatkan dari RD kepada para murid saya, rekan kerja dan siapa pun yang saya temui. Mengapa? Karena banyak sekali hal positif yang ada di RD dan saya telah merasakannya. Saya mau semua orang juga merasakan hal yang sama.

Jika saya atau Anda bertanya kepada diri sendiri: Apakah ada sebuah tempat yang tidak menjadikan kekuatan fisik sebagai satu-satunya kelebihan? Adakah tempat yang lebih mengagungkan otak daripada otot? Adakah tempat yang tepat untuk mengembangkan diri dan kreativitas? Adakah tempat yang membuat pandangan kita terhadap dunia menjadi luas bahkan tak terbatas? Jawabannya: Ada! Rumah Dunia!

*) Rumah Baca Bojonegara, Ahad, 10 April 2022

Ardian Je, relawan Rumah Dunia dan pendiri Rumah Baca Bojonegara. Bukunya yang sudah terbit adalah kumpulan puisi dan cerpen Cerita daun Cemara dan Purnama (Gong Publishing, 2013), kumpulan puisi Empat Mozaik dari Laut (Gong Publishing, 2016), kumpulan puisi Bojonegara (Gong Publishing, 2017), kumpulan cerpen Lelaki Tua yang Menyapu sambil Menangis (Gong Publishing, 2019) dan kumpulan esai Mendekatkan Siswa pada Buku (Gong Publishing, 2020). Kini ia mendidik di SMP Unggulan Uswatun Hasanah Cilegon.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==