Salah satu contoh cerita yang tak bercerita tentang kisah-kasih di sekolah adalah cerpen Ruth karya Aqilla Daffa Hakimah. Seorang anak remaja bernama Ruth dikisahkan bertemu dengan wanita paruh baya Ibu Malisa. Ibu Malisa berpenampilan seperti gelandangan, namun sesungguhnya memiliki rumah layak huni. Saat pertama berjumpa, Malisa merasa aneh, terlebih ketika ia tahu nama dari gadis itu adalah Ruth. Lantas Ruth bercerita tentang keluarganya yang dibunuh oleh perampok tak dikenal saat umurnya masih 10 tahun.

Pertemuan itu yang menjadi alur pergerakan cerita hingga membongkar misteri, siapa sesungguhnya sosok dari Ibu Malisa tersebut. Aqilla meramu cerita ini dengan cukup piawai. Dalam cerpennya Aqilla berhasil mengajak pembaca pelan-pelan untuk sama-sama memecahkan teka-teki rahasia yang coba diurai satu demi satu.
Atau cerpen Pria dalam Kotak karangan Arfina yang bercerita mengenai Lana, pengedar narkoba yang dipenjara. Di dalam sel, Lana mendapat perlakukan kasar dari Banta cs. Lana mengaku bukanlah pengedar. Cerita ini menggunakan seting lokasi di Aceh. Lana dikeroyok hampir mampus, kemudian dikunci dalam sel beberapa menit sebelum gempa dan tsunami datang menghantam ruang sel itu. Lana berdoa ingin meninggal dalam damai. Dalam cerpen ini Arfina berhasil menyuguhkan penderitaan Lana, sehingga pembaca jadi bersimpati kepada tokoh utama rekaannya itu. Cara bertutur ceritanya sangat baik, dan saya pikir cerpen ini berpeluang dijadikan cerita bersambung (cerbung).

Cerpen karangan Suci Puspita Dewi berjudul Lilin. Cerpen ini mengangkat potret kehidupan miskin sebuah keluarga kecil. Si Ibu yang penyabar, namun Taufan, anaknya diceritakan sebagai anak yang pemarah dan selalu ingin hidup serba ada. Sementara Ayahnya sudah meninggal dunia. Suatu hari ia mendapatkan surat misterius. Isi surat itu berbunyi: Ibu bagaikan lilin, yang rela dirinya terbakar demi menerangi sekelilingnya (hal 35). Membaca surat itu Taufan jadi sadar dan merindukan Ibunya.

Kisah-kasih di sekolah yang saya maksud terdapat dalam cerpen Baskara karya Zeni Tri Lestari juga merupakan cerpen yang renyah. Penceritaannya asyik dan mengalir. Ini tentang cinta anak SMA. Antara Baskara dan Kirana. Baskara yang digambarkan dingin dan selalu menghindar berteman dengan yang lain, karena ia pernah berkelahi, dibawa ke kantor Polisi dan diskors di sekolah. Tapi tiba-tiba ada Kirana yang tetap berani mendekati Baskara karena alasan kuat: project bareng di sekolah. Alur cerita dalam cerpen ini sangat stabil, dan ditutup dengan kalimat yang puitis: Kirana, aku Baskara. Namaku berarti matahari. Tetapi sepertinya, aku telah kehilangan sinarku. Terima kasih telah datang dan membuatku memilikinya lagi (hal 6).

Lain lagi dengan cerpen satu ini. Patah Hati karya Nurul Adelia Putri. Nurul membuka cerpennya dengan cukup manis. Semua orang punya kisah masa lalu, yang membedakan hanya warna dalam kisah itu. Aku diajarkan olehnya tentang arti cinta sesungguhnya, tentang bagaimana cara mengagumi tanpa harus merelakan kehormatan, dan tentang cara mencintai dalam rintihan doa kepada Ilahi (hal 14). Cerpen ini berkisah tentang Indah Permata Hati, siswi kelas dua SMA yang patah hati dan kemudian sadar dan tak mau lagi berpacaran. Saat ada laki-laki idaman di sekolah menyatakan cinta padanya, Indah malam menolaknya. Keputusan Indah ini diprotes Ara, teman kelasnya. Tapi itu sudah menjadi prinsip barunya: menolak pacaran! Dalam cerpen ini muatan pesan dakwah begitu kuat terasa.

Cinta Dedemit, awalnya saya kira ini cerita horor. Tapi ternyata bukan. Lebih condong cerpen komedi. Cerpen karya Salsabil ini masih bicara soal cinta di sekolah. Adalah Dian yang mendapat julukan ‘dedemit sekolahan’ dari teman-temannya. Dian dikisahkan sebagai cewe tomboy yang banyak dikagumi pria di kelasnya. Tapi sayangnya Dian terkenal sinis dan dingin terhadap para pria. Suatu hari Vito, teman Dian terjebak di dalam toilet dan salah masuk ke toilet perempuan. Ternyata di sana juga ada Dian. Lantas perdebatan pun mulai berjalan. Vito malah takut kalau Dian berubah jadi dedemit. Hingga akhirnya terbongkar perasaan saling suka antara mereka.

Pelangi adalah cerpen karangan Risa Maulida, bercerita tentang Intan yang patah hati karena ditinggal pergi orang yang disayanginya. Ia lantas kembali jomblo. Hingga satu titik Intan mengibaratkan laki-laki seperti pelangi, indah warnanya, dan saat muncul memberikan kebahagiaan sesaat, lantas hilang entah kemana.
Sedangkan cerpen Rindu karya M. Fadly Wirawan berkisah tentang seorang anak yang merindukan Ibunya yang sudah meninggal. Setiap malam ia ingin berjumpa dengan Ibunya lewat mimpi. Tapi sang Ibu tak kunjung datang.

Dina Okta menulis cerpen Petaka Purnama Batin, bercerita soal Gladis yang selalu dibanding-bandingkan dengan Kakak kandungnya sendiri. Apapun kebaikan yang dilakukan Gladis, di mata Ayah selalu saja salah. Ayahnya lantas menjebak Gladis menjadi wanita penghibur. Ia menolak dan mengeluarkan pistol. Cerpen ini ditutup dengan ending yang tragis.
Cerpen lainnya adalah Pria Bergelang Tasbih karya Nurmala Sari, yang berkisah tentang Fitri yang diam-diam mencintai santri yang selalu menggunakan gelang tasbih di lengan tangannya. Sahabat adalah cerpen gubahan Mahmudin, berkisah tentang Teen, yang dalam hidupnya memiliki dua sahabat sejati; Adit dan boneka Doraemonnya. Sementara cerpen Maher karangan Rizki Maryana Putra menceritakan kisah tentang Maher, anak yang dianggap bodoh oleh Ayahnya sendiri. Tetapi di akhir cerita Maher menjadi penyelamat bagi keluarganya ketika sang Ayah tersandung kasus korupsi.

Pramuka yang Kurindukan cerpen milik Asep Saepi. Berkisah tentang ‘Aku’ yang awalnya tidak suka dengan kegiatan Pramuka, tapi kemudian jadi mencintai Pramuka sejati setelah mengalami keseruan dalam Pramuka. Cerpen berikutnya adalah Sang Pejuang karangan M. Agung Gumelar yang berkisah tentang Amar yang memiliki suara merdu namun terlahir dari keluarga miskin. Dia memiliki cita-cita tinggi. Walau miskin, Amar tetap berusaha sekuat tenaga meraih mimpinya. Sementara Chumaedi menulis cerpen Si Joko, tentang anak yang malas belajar, sehingga selalu dimarahi gurunya. Sebab itu Joko jadi rajin belajar hingga akirnya dia mendapat prestasi yang bagus.

Cerita-cerita yang terangkum dalam buku Ruth ini, di dalamnya penuh dengan pesan moral yang patut kita baca sebagai cerminan hidup ini. (*)
*) Tulisan ini sebagai pengantar buku Ruth.
Keterangan Buku:
Judul : Ruth
Penulis : Zeni Tri Lestari, dkk
Jenis : Kumpulan Cerpen Kelas Menulis DPK Banten
Penerbit : Gong Publishing (Desember 2017)
ISBN : 978-602-6663-49-8
Tebal : 91 halaman; 14×20 cm


