Saat Traveling Harus Saling Pengertian

Sudah lama aku ingin merasakan Ramadan di negeri orang. Alhamdulillah kali ini diberi kesempatan menikmati negara tetangga dulu. Semoga diberi kesempatan merasakan Ramadan di Baitullah. Aamiin paling kencang.

Kubilang lebih santai, karena aku sendiri lebih banyak menerima kondisi. Tidak banyak keras kepala demi kondisi ideal, atau terlalu perfeksionis. Masih ada beberapa kejadian ingin ideal, tapi lebih mudah mengendalikan. Cuma kadang masih suka adu argumen sama hubby untuk urusan yang tidak terlalu penting. Hahaha. Maafkan hamba, paduka.

Aku tahu, hubby selalu menekan semua ekspektasi tiap jalan bareng aku. Supaya aku bisa mengimbangi langkahnya, beliau akan mengurangi kecepatan. Tapi sesekali aku yang jalan mendahului dan harus diingatkan. Ya, aku gantian mengerem langkah. Intinya tetap saat traveling harus saling pengertian.

Sesekali juga aku mengingatkan hubby ketika beliau memutuskan sesuatu dengan tiba-tiba, membuatku pontang-panting merespons. Aku yang terbiasa mikir dulu dan menimbang dengan hati-hati jadi sering kelabakan mengikuti keputusannya. Ada saat-saat aku harus memintanya untuk introspeksi, dan syukurlah hubby mengiyakan dan memperbaiki sikap.

Bukan berarti siapa dominan di sini, tapi saat salah satu memutuskan, yang lain harus sadar untuk menurut dan menerima risikonya. Hal-hal begini jika di rumah berlangsung secara otomatis, tahu sama tahu, dan kadang kami tak sempat membahasnya.

Di jalan, di tanah orang, saat merasa jauh dari rumah, kami cuma punya kita berdua. Percakapan yang terlupa dibahas di rumah jadi punya ruang untuk dibicarakan sampai detil. Meski sebagian besar tentangnya sudah kuketahui, tapi ternyata ada hal lebih dalam yang baru kupahami alasannya. Memang tidak mengubah apa pun sih, justru menguatkan genggaman melangkah berdua. Halah. Hahaha.

Jika aku menulis begini, beliau begitu, bukan berarti kami hanya saling memuji. Padahal banyak hal sulit dan buruk yang kutulis juga. Hanya mungkin aku melihat kesulitan sebagai hal biasa yang harus segera dicari jalan keluarnya. Di perjalanan ini pun begitu. Setiap kami menghadapi masalah, masing-masing bersiap mencari solusi.

Semua rumah tangga pun begitu. Jadi apa istimewanya? Ya memang tidak ada yang istimewa bagi orang lain, sebab fokusnya kami menjadi istimewa buat pasangan. Dua puluh tujuh tahun bersama, setelah mengenal selama tiga puluh empat tahun, mungkin tidak ada artinya buat orang luar. Tapi bagi kami, rumah tangga adalah ibarat rel kereta api, tak pernah bisa menyatu tapi tetap satu tujuan: stasiun. Kuncinya saling pengertian adalah solusi.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==