Selama bersama itulah kami seringkali ‘identik’ tanpa sadar. Maka ketika hubby minta izin menggunakan waktu -sebelum bertolak ke bandara- untuk memutari kota, aku persilakan. Beliau mengajakku, tapi aku memilih menyelesaikan mengemas barang tersisa. Selain itu aku ingin memberi ruang dan waktu bebas buat hubby.

Dengan bepergian sendiri ia tidak akan sibuk memikirkan kenyamanan buatku. Ketika berjalan sendiri ia bebas menentukan arah langkah. Saat lelah, beliau tinggal kembali menemuiku lalu memborbardir dengan pengalamannya menyasarkan diri dengan sengaja.

“Tahu nggak, waktu kita duduk-duduk di depan masjid, habis itu kita jalan lurus. Harusnya kita ke kanan, di situlah Little India berada!” ujarnya dengan antusias.

Ia lalu menggambarkan rute jalan yang dilaluinya, menandai tempat-tempat yang kulewati, dan memberi gambaran agar aku yang lemah soal visual ini paham. Lalu menyayangkan aku tidak ikut dengannya. Aku tinggal menunjuk dua ransel siap bawa, dan beliau mengangguk berterima kasih. Masing-masing kami mengambil peran tanpa memberatkan.

Begitulah kami saling mengikatkan diri, membatasi satu sama lain, tapi juga memberi kebebasan menjadi diri sendiri. Saling memberi kesempatan untuk berkembang karena saling pengertian. Seperti pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tapi jawabnya mungkin terlupa.
“Kenapa memilihku?”
“Karena kamu bisa nulis puisi. Kamu sendiri kenapa mau nerima aku?”

“Karena kamu sering cerita tentang ibumu. Trus kamu masih salat meskipun sedang traveling.”
Allahumma baarik ‘alaih.
*) Ruang tengah rumah, 28 Maret 2024.



