Duta Baca Indonesia bercerita tentang kehidupannya semasa kecil sesudah diamputasi. Ia diminta orang tuanya untuk membaca, berolahraga, dan mendengarkan dongeng. Dengan konsisten ketiga hal itu dilakukan sehingga ia mendapatkan pahala sewaktu masih hidup. Bisa menulis 126 buku hingga diangkat menjadi Duta Baca Indonesia

“Waktu muda. Di kamar saya tulis di dinding. Kalau tidak membaca masuk neraka sebab itu perintah Allah. Jadi kalau saya malas saya ingat itu,” ungkap Duta Baca Indonesia.

Nur Asikin, wali asrama Pondok Pesantren Binaul Ummah menjelaskan bahwa kegitan ini sangat penting bagi santri. Ia berharap santri dapat mengambil banyak pelajaran dari cerita-cerita yang disampaikan Duta Baca Indonesia.

“Apa yang disampaikan mas Gong sangat inspiratif. Kedepan semoga para santri bisa mengambil pelajaran dari prejalanan hidup yang diceritakan mas Gong. Sehingga mereka senantiasa terdidik dalam hal literasi dan lebih kuat lagi dalam hal membaca. Juga kedepannya memiliki kemampuan dan wawasan yang lebih luas lagi karena membaca,” jelas Asikin.



