Pernah suatu hari teman semasa sekolah datang berkunjung. Dia heran melihat dinding-dinding yang ada di rumah saya penuh dengan buku. Dia bertanya, “Ini buku dibaca semua.”

Saya menggeleng, “Belum semua.”
“Untuk apa beli buku kalau tidak dibaca?” Dia semakin heran ketika lahan seluas 1000 meter , ada 4 bangunan, berisi buku semua.
“Tapi nanti pasti saya baca. Pelan-pelan. Selalu ada waktu luang untuk membaca buku,” jawab saya kemudian.

Hal ini sudah banyak ditanyakan kepada saya. Tapi itsri dan anak serta saudara tidak. Mereka tahu kenapa saya (dan istri) selalu membeli buku. Sepanjang ada orang menulis dan penerbit menerbitkannya, saya sudah menyediakan dana Rp 200 ribu/bulan untuk dibelikan buku. Saya rasa itu hampir sama dengan orang yang selalu keranjingan ke mal kemudian belanja.

“Lalu, apa manfaatnya kamu beli buku? Gelar akademik saja nggak punya.”
Itu pertanyaan yang menohok saya. Jujur, ketika ada yang menanyakan hal itu, terkait manfaat buku, saya tidak tahu harus menjawab apa. Apalagi ketika dikaitkan dengan gelar akademik. Saya hanya pernah kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung dan setelah KKN, saya mengundurkan diri, meneruskan kuliah di jalanan.

Tapi kemudian jawaban saya, “Barangkali kamu bisa melihatnya di dalam perilaku sehari-hari saya. Yang mungkin masih bisa saya ingat hingga sekarang dari buku-buku yang saya baca adalah: jangan mengambil sesuatu yang bukan hakmu. Ya, itu: jangan korupsi.”

Selebihnya, manfaat buku untuk saya apa, saya tidak tahu. Saya haya ingin terus membeli buku dan menyusunnya di perpustakaan saya. Saya senang membacai punggung bukunya. Jika buku itu belum saya baca, saya ambil. Saya baca daftar isinya, kata pengantarnya, kemudian saya baca cepat.

Sejak remaja, saya bahagia diizinkan oleh orang tua untuk memakai paviliun sebagai perpustakaan saya setelah di kamar sudah penuh. Saat kuliah, kamar kos saya hanya berisi buku. Saya bahkan tidur di antara buku-buku. Ketika menikah, mas kawin saya adalah perpustakaan di rumah. Sekarang, saya semakin bahagia karena buku-buku saya sebar di Rumah Dunia dan bisa dibaca orang.

Alhamdulillah, hingga hari ini, keempat anak kami selamat dari dunia anak muda yang kompleks. Tidak ada yang terkena narkoba. Si sulung kuliah beasiswa di China, nomor dua sejak kelas 5 SD (2012) beasiswa di Abu Dhabi (sekarang S2 di sana). Ketiga kuliah film di akademi Film Yogya, dan si bungu Sastra Kore UPI Bandung. Itu mungkin manfaat dari membaca buku buat saya. Tidak filosofis, tapi fungsional.
Gol A Gong



