Mau menelepon suami dulu, sudah nggak ada waktu. Lagipula sudah malam, beliau sudah pulang dari kantor ke kontrakannya di Jakarta sana. Belum ada ponsel waktu itu. Kalau toh berhasil menelepon juga dan disuruh tetap merahasiakan, ibu mertua tetap akan memikirkannya.

Mau tidak mau aku harus cerita.
“Nek, doain ya, insyaallah Aa sama Tias mau beli tanah di belakang. Nanti rencananya dibangun rumah buat Nek sama Aki.” Akhirnya aku berterus terang.
“Emak lebih suka tinggal di sini,” sahut ibu mertuaku agak emosional. “Kalau kalian sudah tidak mau menampung kami, biar saja kami kembali ke rumah lama.”

Aku buru-buru menenangkan. “Bukan nggak mau, Nek. Sudah lama Aa pengin beli tanah belakang, sekarang ada rezeki, jadi mau diwujudkan. Kalau nanti Nek sama Aki nggak mau di belakang, maunya sama-sama di sini, ya nggak apa-apa. Di belakang nanti buat perpustakaan aja.”
Akhirnya ibu mertuaku bisa menerima alasan itu dan kembali masuk kamar. Tapi sebelum menutup pintu, beliau berkata, “Emak kasihan sama kalian. Kamar kalian jadi dipakai sama Emak Bapak. Nuhun ya Tias.”

“Nggak apa-apa, Mak. Kan ini juga Tias yang mengusulkan ke Aa. Jadi nggak ada masalah.” Aku berusaha menenangkan ibu mertua.
Rumah Dunia, 6 Maret 2024


