Aku pernah heran pada kecintaannya pada Banten. Padahal beliau lahir di tanah Parahyangan. Pasti ada sesuatu yang mengikatnya, pikirku.
Jawabannya kudapat dari ibu mertuaku saat aku ungkapkan keheranan itu.
“Kakek buyut Aa atau kakeknya Emak memang dari Labuan,” begitu kata Emak atau Nek, panggilan ibu mertuaku. “Karena dikejar tentara Belanda waktu penjajahan, kakek buyut lari ke Sumatera, lalu pindah ke dekat Bandung. Beranak pinak di sana, sampai kemudian Emak yang pindah ke Serang setelah suamimu lahir.”

Jadi begitu, batinku. Pantas saja suamiku selalu menginginkan yang terbaik untuk Banten. Sedikit-sedikit yang dibicarakannya adalah bagaimana cara memajukan Banten. Ide-idenya kadang terasa mustahil dilakukan, tapi bisa dicoba untuk dimulai.
Seringkali ide-idenya yang terus bermunculan itu berhadapan dengan mereka yang tidak setuju. Tapi bukan Pak Gong namanya kalau mudah menyerah. Seorang diri pun akan dijalani mewujudkan ide itu jika diyakininya itu benar.

Tentu saja aku tidak akan membiarkan suamiku jalan sendiri. Aku akan menjadi lengan kirinya, agar ia dapat lebih ringan melakukan banyak hal. Perlahan hal itu menular padaku. Aku mulai mencintai Serang dan Banten, sebesar-besarnya.
Lantaran cinta itulah, aku menghilangkan semua kemungkinan capek dan bosan saat mengajari anak-anak sekitar. Kutancapkan di pikiran, di depan mereka aku harus selalu siap. Apakah bisa? Kupikir, waktu yang akan membuktikannya.
*) Tias Tatanka, Rumah Dunia, 9 Maret 2024


