Ke beberapa tetangga aku sudah tanyakan mengenai kekhawatiranku, dan jawaban mereka tidak menjadi masalah. Jadi bisa kutarik kesimpulan ini masalah ketidaksukaan. Oke, aku akan mencari jalan lain.
Ruang berkumpul yang semula di teras depan, aku alihkan ke teras samping yang lebih luas. Meski belum beratap, tapi sudah berlantai semen. Hanya harus sigap saat hujan, buku-buku harus diamankan.

Sebenarnya kasihan anak-anak yang datang, saat hujan mereka berlarian pulang setelah membantuku membereskan buku dan karpet. Kadang aku suruh mereka pulang saja, khawatir hujan makin deras.
Saat itu rumah kami belum selesai seluruhnya. Kamar mandi baru satu, teras belum diatapi, dan lantai masih semen kecuali kamar mandi yang lantainya sudah berkeramik.

Berhubung punya bayi yang mulai merangkak, aku berusaha menjaga lutut dan ujung jari tangan kakinya tidak luka terkena semen. Sehari-hari bayiku mengenakan celana panjang yang membungkus sampai ujung jari kaki.
Aku juga telaten mengepel lantai dengan bekas parutan kelapa. Semeter dua lantai semen kugosok dengan kelapa parut bekas santan. Sesekali aku menggunakan kelapa parut yang baru, supaya minyaknya lebih banyak keluar. Alhamdulillaah akhirnya lantai semen lumayan kinclong dan halus. Bayiku pun lebih nyaman merangkak ke sana kemari.

Termasuk teras juga ikut kinclong. Ini sebenarnya tidak instan, tetapi butuh waktu berminggu-minggu.
Rumah Dunia, 4 Maret 2024



