Surat dari Qatar: Sapien di Ujung Tanduk, Monyet dan Kelapa Adalah Kita

“Monyet ngagugulung kalapa” adalah peribahasa di dalam bahasa Sunda yang artinya kurang lebih “seseorang yang memiliki sesuatu tapi tidak tahu cara memakainya”.

Saya menjadi seperti monyet itu ketika tiba-tiba dan semua jejaring sosial selain Twitter tidak bisa dipakai. Itu pun sama saja karena ternyata internet memang sama sekali mati. Hampir setengah hari itu saya seperti “monyet ngagugulung kalapa”. Handphone bulak-balik saya restart dan saya langsung bayar tagihan bulanan internet yang sudah nunggak satu bulan, karena haqqul yaqin itu adalah penyebabnya. Padahal ternyata bukan.

Tanpa internet, Handphone di tangan saya terasa seperti sebongkah batu atau sebutir kelapa yang hanya bisa dilempar. Tanpa internet beberapa jam saja, jiwa saya serasa sudah hilang separuhnya dengan tidak adanya tang ting tung notifikasi like atau komen di Instagram dan Facebook. Tanpa melihat video-video lucu hahahihi atau trivia-trivia keren yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat di Tiktok beberapa jam saja, itu sudah membuat saya seperti manusia purba yang hanya bisa garuk-garuk kepala dengan batu.

Begitulah kita, manusia digital yang terlalu terikat dengan media sosial di zaman internet. Zaman ketika manusia sudah menjadi budak koneksi, penghamba jaringan dan umat sosial media.

Mas @iqbal.aji.daryono dengan jenaka dan cakap serta gegap gempita menyajikan fenomena-fenomena absurd dan tingkah laku ajaib manusia di era sosial media.

Dia adalah kita yang pernah disuruh belok kanan ke jurang oleh Google Maps padahal belokannya ke kiri, atau disuruh lurus terus ketika di depan kita adalah gundukan pasir.

Dia adalah kita yang pernah ribut gelut dengan orang yang entah siapa dan di mana hanya karena perbedaan pilihan ketika Pilpres dan Pilgub. Dia adalah kita yang hanya mau membaca berita yang kita inginkan, bukan kita butuhkan. Dia adalah yang menjadi budak “pakeeet!” pembawa kiriman online yang harus kita datangi tergopoh-gopoh, kapan pun dan apa pun yang sedang kita lakukan.

Dia adalah saya yang jengkel dengan netizen terhormat yang sangat kurang literasi media dan tidak peduli kelengkapan berita, sehingga jarang sekali cover all sides ketika berita-berita viral muncul. Kita yang bingung ketika mereka semua menjadi pakar-pakar yang menyalahkan semua yang berbeda pandangan dengan mereka.

Dia adalah kita yang jengkel ketika kasus-kasus kriminal baru ditangani ketika sudah viral di mana-mana dan diposting oleh selebgram, Tiktoker, Youtuber, Influencer dan sejenisnya.

Dialah juga yang khawatir dengan akan seperti apa kehidupan generasi Corona di masa depan, walau pun seharusnya tidak perlu karena setiap generasi pasti akan menemukan caranya sendiri untuk meluncur menempuh ganasnya zaman dan peradaban di masa depan.

Seperti Keripik Beling, buku ini sangat ringan dan renyah tapi penuh dengan lapisan kritik pedas yang menampar pembacanya, dan lebih umumnya untuk netizen yang jempolnya pedih dan tajam tak bertulang.

Menjelang tengah malam di Doha, 22 Agustus 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Homo sapiens telah berevolusi menjadi Homo digitalis. Manusia sekarang lebih akrab dan nyaman di ruang maya , asing dengan lingkungan nyata di sekitarnya. Nyatanya, manusia sekarang hidup di dunia hipertealitas.

    Satu saat, kita bukan lagi sebagai ‘monyet ngagugulung kalapa, tapi sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==