Penghargaan Kepada Najwa Shihab

Perpusnas RI memberikan penghargaan kepada Najwa Shihab atas dedikasi dan komitmennya sebagai Duta Baca Indonesia 2016-2021 di ruang Teater, Gedung Perpusnas, Merdeka Selatan, Jakarta Selatan, Jum’at 30 April 2021.

Kemudian tongkat estafet itu diserahkan kepada saya. Insya Allah, saya akan meneruskan perjuangan Tantowi Yahya, Andi F. Noya, dan Najwa Shihan sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025. Mohon bantuna dan dukungannya, ya.

Pengukuhan Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025 oleh Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpusnas RI, Jum’at 30 April 2021
Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Jadi Duta Baca Indonesia? Bermimpi Saja Tidak!

Awal April 2021, saya diberi tahu bahwa Perpusnas RI memilih saya sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025 menggantikan Najwa Shihab – Duta Baca Indonesia 2016-2020. Saya tertawa. Pasti Perpusnas sedang becanda. Ah, ini budaya baru generasi milenial: prank! Ngerjain orang!

Ternyata serius! Saya ditawari, “Mau, tidak? Kalau mau, rambut harus dipangkas!”

Rambut harus dipangkas? Ah, itu persoalan gampang.

Selama 3 minggu, perasan saya tidak karuan. Kacau. Betul, tidak? Kemudian saya dimintai bio data, NPWP, nomor rekening bank, dan nama asli. Juga membuat visi-misi. Saya mulai bersemangat. Visi Duta Baca Indonesia 2021-2025: Berdaya dengan Buku.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Dari Najwa Shihab ke Gol A Gong

Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia (DBI) 2016-2020 menyerahkan tongkat estafet kepada Gol A Gong – Pendiri Komunitas Baca dan Tulis Rumah Dunia di Serang Banten pada Jum’at 30 April 2021, Ruang Arena, Lt. 2, Gedung Perpusnas RI, Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Para pegiat literasi terkejut ketika menyadari, bahwa DBI 2021-2025 bukan dari kalangan artis atau selebritis. Mereka menyatakan kegembiraannya di media sosial, karena sekaranglah saatnya yang tepat, yaitu “Duta Baca Indonesia tidak sekadar narasi, tapi juga aksi!”

“Mohon bantuan dan doa’nya. Saya tidak bisa sendirian. Ini pekerjaan berat membudayakan gemar membaca dan menulis di masyarakat digital, tapi jadi mudah jika bersama-sama saling bahu membahu,” kata Gol A Gong setelah selendang simbol “Duta Baca Indonesia” disampirkan di tubuhnya. “Fokus kita sekarang adalah menambah koleksi buku yang ditulis oleh mereka sendiri, yaitu para pemustaka. Misalnya, jika ada pemustaka yang berhasil di bidang pertanian semangka gara-gara membaca buku di perpustakaan, maka dia harus menuliskan resep jitunya jadi buku!” tegang Gong yang sudah menulis 125 buku.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Dari Heri ke Gong: Ihwal Duta Baca Indonesia

Saya mengenalnya sebagai Heri. Saat itu, 1977, saya diterima di SMPN 2 Serang. Dia kakak kelas saya satu tahun. Walau tangan kirinya buntung, dia tampak biasa saja. Wajahnya riang dan, kesan saya, agak badung.

Saat saya masuk ke SMAN 1 Serang, tahun 1980, dia juga sudah bersekolah di situ. Saat SMA itulah, sebagai pengurus OSIS, bersama Rahmat Yanto (kemudian menggunakan nama Rys Revolta), saya mengelola Mading (Majalah Dinding) sekolah. Tapi Heri malah membuat mading sendiri di kelasnya.

Selepas SMA Heri diterima kuliah di Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran Bandung. Cukup mengagetkan bagi “siswa sulit diatur” seperti Heri. Satu tahun kemudian, 1983, saya dan Yanto juga ke Bandung. Saya ke Sastra Jepang tapi tidak lolos, sedangkan Yanto diterima di Sastra Perancis. Saya kecewa sekali lalu mendaftar ke IKIP Bandung. Tapi hanya kuliah satu hari saja di sana dan memutuskan kuliah di sebuah sekolah tinggi di bilangan Dago.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5