Kata bapak mertua, “Mulailah hari baru dengan sarapan.” Perut terisi, pikiran cemerlang. Seharian bekerja butuh amunisi yang cukup.
Memulai Hari dengan Sarapan

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Kata bapak mertua, “Mulailah hari baru dengan sarapan.” Perut terisi, pikiran cemerlang. Seharian bekerja butuh amunisi yang cukup.

Judul bukunya: Tangis Anak Palestina. Ini kumpulan 75 tulisan. Beli, a. Royaltinya disumbangkan untuk anak-anak Palestina.

Hubby sudah lama tidak makan nasgor. Sedang terapi jus. Tapi, kasihan. Jika pagi nasi, siang dan malam jus.

Mendengar suara-suara sedikit ribut, suamiku bertanya. Dengan gembira aku beritahu anak-anak itu datang lagi. Rupanya karena kepo, suamiku ikut menemui mereka.

Aku sendiri heran melihat respon mereka, ada ketakutan sikapku salah. Ketika kukatakan hal ini ke suami, beliau menjawab, “Justru itu karena kita telah meng-orang-kan anak-anak itu.”

Anak-anak itu tidak begitu tertarik membaca tumpukan buku itu. Mereka lebih suka bermain bersama Bella dan mengobrol denganku. “Berarti Mamah yang harus membacakan ceritanya,” kata suamiku ketika kusampaikan kejadian itu.

Anak-anak itu awalnya malu-malu, tetap di balik pagar. Tetapi seorang berani mengawali mengambil kue, dan langsung diikuti anak lainnya. Aku sediakan juga minum dari air mineral gelas.

Setelah alun-alun kami melihat Kampung Warna-warni dari atas jembatan. Cukuplah untuk melihat dari atas, aku tidak turun karena malas naik kembalinya.

Teqball? Olahraga apa ini? Mirip sepak takraw. Iya. Ini perpaduan tenis meja, free style, dan sepak takraw.

Saat ini Rumah Dunia kembali hadir untuk menyuarakan itu semua dengan kemasan diskusi yang dikemas dengan asyik dan mengalir dalam OTAKU: Obrolan tentang Kamu dan Buku.

Di sela-sela kesibukannya menjadi relawan di Rumah Dunia, Tias Tatanka menulis buku puisi, novel, travel writing, juga cerita anak. Silakan borong buku cerita anak karyanya.

Jika mengingat ke tahun-tahun dulu, rasanya menyesal kurang keras pada diri sendiri untuk belajar menyetir. Akibatnya terasa sekali waktu road trip mudik tahun 2004, hubby kepayahan di Cilacap, dan kami terpaksa menginap di hotel.

Saat sedang lihat-lihat itu baru teringat ada konter foto studio yang baru beberapa minggu ini dibuka. Yuklah foto bertiga sama bocah.

Lalu aku merasa mual. Jangan menuduh hamil, ya, karena aku baru selesai haid. Rasa mual itu membuat aku segera duduk, lalu berdiri hendak ke toilet. Tapi dunia seperti berputar.

Lomba internal di Rumah Dunia sangat penting. Tentu dengan iming-iming hadiah. Itu yang dinanti anak-anak.

Membaca nyaring, biasakan di rumah. Luangkan waktu. Waktu sebelum tidur boleh juga.

Aku memilih melahirkan anak-anak nanti di Serang dengan satu alasan: agar Banten semakin dekat denganku. Soalnya hubby yang lahir di Purwakarta dan sejak umur 2 tahun (1965) sudah tinggal di Serang, sering dipersoalkan sebagai bukan orang Banten.