Pertanyaannya: tidak boleh ya menulis puisi terang benderang? Ya, bukan persoalan boleh dan tidak boleh. Tapi prosa sudah memfasilitasi itu. Yang saya ketahui, menulis puisi itu harus menyembunyikan maknanya. Pembaca jangan diberitahu. Biarkan pembaca mencarinya sendiri. Itu memang sulit. Dan itulah mengapa saya tidak produktif menulis puisi. Menulis puisi itu bicara hal banyak dengan sedikit kata.

Menulis puisi itu tidak boleh memberi tahu, itu namanya prosa. Puisi itu seperti kita membuka jendela pelan-pelan, setelah terbuka lebar, kita akan melihat dunia yang luas. Memang perlu berlatih terus-menerus. Saya juga sering mengalami kesulitan saat menulis puisi. Mari kita belajar bersama-sama.
Sebetulnya karya pertama saya yang dipublikasikan media ibukota adalah puisi (1981, kelas 2 SMA). Ketika honornya Rp 3500,- saya patah hati. Saya punya mimpi besar membangun gelanggang remaja seperti yang Ali Sadikin bangun. Makan saya pindah ke prosa, yang sangat menjanjikan dari segi honor. Lahirlah cerpen, novel, dan skenario sinetron TV yang bermuara ke Rumah Dunia pada 1998.

Saya ingin berbagi cara menulis puisi yang pernah saya alami. Puisinya saya ambil dari buku puisi “Air Mata Kopi” (Gramedia 2014) yang masuk 10 besar Hari Puisi Indonesia 2014. Saat itu saya merasa “perubahan di Indonesia berjalan lambat”. Saya berpikir keras. Jadilah dua baris di bawah ini:

“Kedai Kopi di perempatan kota ini
memaku jam ke dinding begitu lambat berlari”
Penjelasannya adalah:
Kedai kopi: bisa tempat kita bertemu, berbincang, adu gagasan seperti komunitas atau ruang diskusi. Saya teringat revolusi Perancis dimana budaya café melahirkan banyak perubahan.
Perempatan kota ini: membayangkan ada banyak ragam ide/gagasan di negeri ini, saling-silang, berebut mencari tempat. Ini bicara tentang multikultur, bhineka tunggal ika atau dialektika.
Memaku jam ke dinding begitu lambat berlari: ada jam yang dipaku. Ini bicara tentang stagnan, pembredelan, pembungkaman, tak boleh bicara. Tapi setiap saya membaca lagi baris ini, saya merasa melakukan kesalahan. Harusnya cukup dengan “memaku jam ke dinding”. Stop di situ. Nah, itulah godaannya. Saya menambahkan “begitu lambat berlari”, sehingga jadi mudah ditebak. Mestinya cukup:
“Kedai Kopi di perempatan kota ini
memaku jam ke dinding“

Nah, sekian buka-bukaan saya dalam menulis puisi. Mungkin setiap penyair akan berbeda proses kreatifnya. Semoga bermanfaat. Semangat, ya.
Gol A Gong
Duta Baca Indonesia 2021-2024
*) Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat



