Namun, sekarang saya sudah di Kediri untuk menempuh pendidikan bahasa. Ada rasa yang saya rindukan. Darah saya nampaknya sudah menyatu dengan Rumah Dunia. Setiap kali bangun tidur, suasana yang ada pertama kali dalam benak saya adalah perpustakaan keliling. Mengajari anak-anak menggambar, dan lain sebagainya.

Kerinduan itu coba saya tempuh dengan berangkat pagi ke acara Care Free Day di Pare Kediri. Saya mengayuh sepeda dengan sangat cepat. Kira-kira dari kostan ke Stadion Canda Bhirawa jaraknya 3 kilometer. Hanya butuh waktu 7 menit untuk sampai ke sana.
Saya memarkirkan sepeda. Tiba-tiba ada tukang parkir meminta bayaran senilai 2 ribu rupiah. Saya tanyakan tingkat keamanannya, dia ragu-ragu menjawab. Nampaknya, dia hanya ingin uangnya saja tanpa perlu memikirkan resiko sepeda sewaan.

Saya berjalan mengikuti keramaian yang sangat panjang. Jelas di sini. Daripada di Kota Serang, Car Free Day di Pare dan sangatlah padat. Jalanan dipenuhi dengan pedagang. Namun, tertib. Untuk sampah juga mampu dikendalikan dengan sedikit baik daripada di Serang saat CFD.

Tapi ada yang belum mengobati rasa rindu saya. Saya tidak melihat perpustakaan keliling di Pare Kediri. Di Serang, walaupun Car Free Daynya tidak tertib, tetapi memiliki sebuah icon yang mencolok. Mobil APV putih selalu nangkring di depan Kantor Bupati Serang. Apalagi kalau bukan mobil Pusling Rumah Dunia.

Semangat yang ditanamkan adalah memberi kesehatan yang seimbang. Jadi masyarakat bukan sekedar sehat secara fisik saja, melainkan pikiran juga penting untuk dilatih dengan bacaan yang sudah disediakan Rumah Dunia melalui Puslingnya.

Kerinduan itu selalu muncul. Selalu ingin cepat-cepat pulang ke Serang dan menggelar lapakan buku kembali. Melihat keceriaan anak-anak yang membaca buku. Sungguh, itu adalah kebahagiaan yang tiadatara. Rindu perpustakaan keliling Rumah Dunia.*



