Ardian Je
Pada Malam yang Basah oleh Doa
Pada malam yang basah oleh doa
kudengar bunyi degup dari jantung waktu
yang setia pada irama takdir.
Aku pun terlempar ke masa zahir:
di sana aku ditimang ibu
menyesap cinta dari putingnya
yang cokelat kemerahan.
Bagai bunyi degup dari jantug waktu
ia setia memberiku cinta.
Cinta yang lebih bening dari hujan semalam.
Lebih sejuk dari angin pegunungan.
26 April 2019


Ardian Je
Mimpi Ibunda
I
Sebuah rumah
Bersih rapi dan wangi
Engkau tersenyum
II
Aku mendekat
Engkau elus wajahku
Damai terasa
III
Duduk di kursi
Wajahmu bercahaya
Kata tiada
IV
Angin pun pergi
Ruang dan badan bisu
Sepi menari
V
Aku terbangun
Rindu lahirkan tangis
Doaku terbang
1 Februari 2019


Ardian Je
Perjalanan
Mendung yang memayungi perjalananmu
telah robek oleh waktu.
Bukit-bukit menampakkan parasnya.
Jelita bagai perawan desa.
Lalu lagu pagi mengalun dari tipis bibirnya.
Perjalanan bukanlah cara melarikan diri dari kepedihan
melainkan cara menemukan cinta yang pernah hilang
atau cinta yang baru.
Teruslah melangkah
walau lelah
memasung sepasang kakimu.
Saat kau tiba di sana
kau akan kembali
menjadi seekor burung suci
berbulu cahaya
terbang pulang ke sorga.
5 Maret 2019


Ardian Je
Menyusuri Rel Tua
Saat menyusuri sepasang rel tua
aku seperti menyusuri luka lama.
Senja belumlah padam dari pandangan.
Dan pohon-pohon cemara
masih bisa bertukar cerita duka
sebelum September menutup mata.
Tapi kegelapan sudah meringkus pikiranku.
Angin menyelimuti batu-batu
dan kebisuanku. Dan aku
masih setia menyusuri sepasang rel tua ini
berharap segala pedih akan berakhir di ujung stasiun.
Tapi entah ia ada di mana.
2018




