Ibu Tias Tatanka membagi dua tim pendongeng yang diambil dari relawan Rumah Dunia. Aku kebagian satu tim bersama Kak Wina, dan tim lainnya; Kak Dio dan Kak Andin. Proses belajar pun dimulai. Aku dan Kak Wina mulai belajar reading naskahnya lebih dahulu dengan bimbingan Ibu Tias Tatanka. Di hari berikutnya, kami juga pernah belajar mendongeng via daring namun tidak mengurangi rasa semangatku untuk terus belajar.

Waktu awal-awal kami belajar, Kak Wina beberapa kali memberi input kepadaku, bahwa mendongeng tidak sama seperti baca puisi yang biasa ditampilkan. Aku paham, biasanya aku tampil baca puisi di beberapa tempat yang mana aku bebas berekspresi. Namun, kali ini berbeda; aku mendongeng di depan anak-anak TK.

Kemudian, Ibu Tias memberikan saran kepadaku saat bagian Si Tokoh yang Aku perankan menangis, “Bagian ini, kalau bisa Opik menyayat hati ya. Nangisnya jangan telalu lebay. Biasa aja ya!” Aku terima semua masukan dan saran dari mereka. Aku jadi teringat saat menjadi talent Film Yuni dimana Rukman Rosadi, selaku pelatih mengenalkanku dengan teori Stanislavski: Ada tiga tahap dalam berakting yaitu aku sebagai diri sendiri, aku sebagai aktor, dan aku sebagai tokoh. Kita harus bisa masuk ke dalam karakter tokoh yang kita perankan. “Mengembalikan aktor pada kewajaran.”
Nah… pukul 09.00 WIB, Senin 01 Oktober 2022, aku, Kak Wina, dan Ibu Tias Tatanka meluncur menuju Alun-Alun Kota Serang untuk mendongeng di hadapan anak-anak TK se-Kota Serang. Kami menampilkan dongeng tentang “Kado yang Hilang” yang ditulis oleh Ibu Tias Tatanka sendiri. Aku sangat bersemangat.



