Pada 2013 bersama dengan gurunya Ferdiyan masuk Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) hanya untuk mengadopsi sistem belajar dan membangun SDM melalui TBM. Bersama gurunya dan teman-teman Damar 26 masih eksis sampai sekarang.
Ada hal yang menarik minat saya ketika Ferdiyan menceritakan mengapa dia bisa diterima oleh LPDP ketika dia diwawancarai tentang apa yang sudah dilakukannya dan menjadi sebuah keberhasilan di Damar 26?

“Salah satu yang membuat saya menangis adalah karena peserta kelas menulis saya yang tidak kuliah. Dan keberhasilannya anak didik saya membawa koran dan tulisannya dimuat di koran,” kata Ferdiyan yang merasa tidak sia-sia mendirikan Damar 26.

Padahal dulu Ferdiyan pernah dicemooh oleh orang yang menganggap bahwa membaca apalagi sampai mendirikan TBM adalah sebuah kegiatan orang malas. Hanya berlama-lama dengan buku dan tidak menghasilkan apa-apa.
Justru menurut Ferdiyan dengan membaca kita akan tersadar bahwa membuat manusia akan jauh dari perbuatan-perbuatan aral semuanya berawal dari literasi yang bagus. Pangkal kriminal menurut Ferdiyan karena rendahnya literasi.

Ferdiyan yang baru saja datang dari Inggris akan membuat Damar 26 bukan sekedar menjadi TBM yang fokus pada dunia baca tulis melainkan dia akan mengembangkan dengan memberikan pelajaran untuk siswa yang ingin bisa berbahasa Inggris.

Sementara itu, Friska S Lintang founder Teras Bamboe yang sekarang menjabat sebagai Sekjen FTBM Provinsi Banten menceritakan pengalaman hidupnya yang tidak ingin berhenti belajar walaupun dirinya sudah menjadi ibu rumah tangga.



