Aku kecil takut masuk neraka dan begitu ingin masuk surga. Kata Emak, di neraka banyak apinya. Sedangkan di surga ada kolam susu dan banyak makanan yang lezat-lezat. Jika aku takut masuk neraka, Emak selalu menemaniku tidur dengan dongeng-dongeng indahnya. Yang paling membuatku takjub, adalah cerita tentang 7 bidadari yang turun meluncur lewat pelangi dan mandi di danau serta 7 pemuda Ashabul Kahfi, yang sembunyi di goa selama ratusan tahun, karena mengindari rezim penguasa yang kafir pada waktu itu.

Cerita-cerita masa kecilnya di saat zaman revolusi phisik dulu sangat mengesankan buatku. Aki (kakekku) petani. Emak sering menceritakan, bagaimana kakak-kakaknya ikut berjuang mengusir Belanda dan Jepang. Kakekku sering mengelabui Belanda saat membawa makanan ke hutan.
Emak bagiku kecil adalah seorang ibu yang perkasa. Sementara teman-teman Emak memilih menikah muda, Emak mengambil keputusan sekolah di Jakarta. Emak ingin maju. RA Kartini memberinya inspirasi, bahwa wanita tidak hanya sekedar konco wingking (teman di belakang) bagi lelaki, tapi adalah partner. Emak sekolah ikatan dinas di SGA (sekolah guru). ”Ke Jakarta Emak naik kereta gerbong. Aki membekali Emak rambutan, jagung, dan singkong untuk persediaan di asrama.”

Ya, Emak bagiku wanita perkasa. Bersama Bapak, Emak menghidupi kelima anaknya, dan beberapa keponakan mereka yang ingin maju dibawanya. Pada tahun 1965, Emak mengikuti Bapak pindah ke Serang, yang saat itu masih kental dengan aroma ilmu hitam, kemiskinan, dan kebodohannya. Kampung halaman – Purwakarta, ditinggalkan. Emak dan Bapak saat itu mengemban tugas mengentaskan kebodohan di Banten. Emak dan Bapak sangat percaya, bahwa jika ingin merubah nasib bisa mengawalinya lewat pendidikan.

Saudara-saudara Emak, yang rata-rata berpendidikan rendah, menyerahkan anak-anaknya ikut Emak dan bapak untuk dibawa serta ke Serang. Jadilah kami keluarga besar waktu itu. Rumah sebesar tipe 36 terasa sesak. Tapi, dongeng-dongeng sebelum tidur dari Enak, serta buku-buku cerita dan majalah yang selalu Bapak bawa, membuat aku kecil berfantasi dan bahagia. Apalagi jika selepas Isya tiba. Emak dan Bapak membuka rumah kami untuk para tetangga yang ingin menonton televisi hitam-putih berukuran 14 inchi dan buku. Teras rumah kami penuh sesak oleh orang-orang. Semakin besar saja keluarga Emak dan Bapak.


