Cakrawala 29: Surga di Telapak Kaki Ibu

MELAWAN EMAK
Tapi ketika aku sering membaca buku dan otak kananku bekerja lebih cepat dari yang kiri, aku sering menyiksa Emak dengan tingkah lakuku yang nakal. Aku tidak mau menuruti apa kata Emakku. Yang dilarang Emak, selalu saja aku bantah. Aku selalu ingin mencoba hal-hal baru. Aku pernah membaca cerita Nabi Adam dan Hawa, yang melanggar perintah Allah dengan memakan buah kuldi, sehingga mereka dari surga ke bumi. Pikiranku waktu itu, nabi Adam saja melawan Allah. Masak sih aya nggak boleh?

Aku paling malas ke sekolah. Sejak taman kanak-kanak, aku masih ingat, sering berbelok ke sungai untuk mandi atau membuka bekal makanan di depan rumah sakit sambil memanjat pohon. Sampai siang aku baru pulang. Atau aku yang sering pergi jauh dari rumah untuk melihat hal-hal baru. Misalnya pergi ke pasar menyaksikan orang-orang berjualan, ke terminal menonton mobil-mobil angkutan, atau ke rumah sakit melihat kamar mayat, dapur, bangsal tempat si sakit, dan unit gawat darurat. Untuk tempat terakhir, pada akhirnya aku kecil jadi pasien lagganan di unit gawat darurat.

Aku sering mengalami kecelakaan; tertabrak mobil, tertimpa benda keras, kena pisau, dan jatuh. Di wajahku banyak sekali luka bekas jahitan. Orang-orang selalu bilang, bahwa itu karena aku kecil sering melawan Emak. Tapi, ketika aku dewasa, aku menyebutnya karena otak kananku yang tidak beres. Satu kakiku menginjak bumi, satu lagi mengawang-awang di angkasa.

Bagiku menjelajahi tempat-tempat baru itu petualangan mengasyikan, tapi bagi Emak itu mengkhawatirkan. Aku sering tidak mengerti waktu itu. Emak suka bilang, ”Nanti kalau kamu sudah besar, pasti mengerti.” Apa yang dikatakan Emak, akhirnya aku pahami setelah dewasa. Apalagi setelah jadi Bapak dengan empat orang anak sekarang. Emak adalah ibu.

Kalau Bapak, secara ilmiah dia hnya meninggalkan sperma di rahim Emak. Tapi setelah itu, Emak mengolah sperma Bapak selama sembilan bulan di rahimnya. Membreinya makaan lewat plasenta. Meregang nyawa ketika melahirkanku. Bahkan merawatku penuh kasih sayang. DNA Emak tidak hanya satu Bagi Emak, aku tidak hanya sekedar anak bilogis, tapi juga sosiologis. Bahkan lebih dari itu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==