Menampilkan: 35 - 51 dari 120 HASIL

Puisi Minggu: Tentang Pernikahan Karya Irzi

Mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 22/II/1 Juni – 8 Juni 2025 tentang Pernikahan Karya Irzi. Cinta di usia pernikahan ke-1, ke-3, ke-19,
ke-23, sampai ke-25 itu kayak varian rasa keripik pedas: kelihatannya sama, tapi tiap gigitan
rasanya beda. Kadang pedes banget, kadang hambar, kadang malah renyah di waktu yang tak
terduga. Puisi-puisi ini bukan soal romantisme sinematik ala film festival, tapi lebih soal
siapa yang pertama kali nemuin remote TV, siapa yang rela masak meski abis berantem, dan
siapa yang inget ganti air galon sebelum ditegur. Selamat menikmati.

Puisi Minggu: Pada Setiap Jejak yang Tertinggal Karya Alex Karci Kurniawan

Mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 21/II/25 Mei – 1 Juni 2025 tentang “Pada Setiap Jejak yang Tertinggal” karya Alex Karci Kurniawan – Kolumnis Asia Times (Hong Kong) dan Daily California (Amerika Serikat). Dia tinggal di Pekanbaru. Puisi-puisi ini lahir dari pengamatan, perbincangan, dan juga bayangan saya sendiri ketika nanti saya juga menjadi tua dan sepuh. Tentang ruang-ruang yang mulai kosong, waktu yang terasa lambat, dan ingatan yang semakin banyak menumpuk di dalam laci kepala. Tapi juga tentang harapan kecil: bahwa akan selalu ada seseorang yang sudi duduk dan mendengarkan.

Puisi Minggu: Luruh Karya Verra Okti

Puisi-puisi ini bukan tentang akhir yang meledak, melainkan retak-retak kecil yang perlahan membentuk ruang untuk mengenali diri. Luruh adalah kisah mereka yang masih belajar berdamai, dengan masa lalu, dengan kecewa, dengan dirinya sendiri. Mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 20/II/18 Mei – 25 Mei 2025 tentang “Luruh” karya Verra Okti – penyair asal Tegal.

Puisi Minggu: Potongan Masa Lalu Karya Mars

Puisi-puisi ini lahir dari potongan masa lalu saya dan dari cerita-cerita orang-orang terdekat saya: adik, teman, atau tetangga saya. Kata Imam Ghazali, yang paling jauh itu bukan matahrai atau bulan, tapi masa lalu. Kita tidak mungkin bisa kembali. Sekarang mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 19/II/11 Mei – 18 Mei 2025 tentang “Potongan Masa Lalu” karya karya Mars – seorang ibu rumah tangga yang lahir di Madiun tapi kini tinggal di DKI. Seduh kopimu dan nikmati puisi-puisinya.

Puisi Minggu: Perantauan Karya Erika Az Zahra Nurcahyani

Merantau adalah perjalanan mencari, menemukan, dan kadang, kehilangan. Setiap langkah yang menjauh dari rumah adalah sebuah cerita, setiap rindu yang tertahan adalah puisi yang
menunggu dituliskan Sekarang mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 18/II/4 Mei – 11 Mei 2025 tentang “Perantauan” karya Erika Az Zahra Nurcahyani – seorang perantau yang menjahit langkah dengan kata.

Puisi Minggu: Warisan Bapakku Ibuku Karya Abdul Wachid B.S.

Lima sajak dalam rangkaian “Warisan Bapakku Ibuku” ini adalah sebuah persembahan bagi mereka yang telah meninggalkan jejak kasih, doa, dan kebijaksanaan dalam hidup kita. Sajak-sajak ini tidak sekadar menyusun kata-kata, tetapi menjadi perjalanan batin yang menggali makna dari setiap warisan
yang tak terlihat, tetapi begitu terasa.
Sekarang mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 17/II/27 April – 4 Mei 2025 tentang “Warisan Bapakku Ibuku” Karya Abdul Wachid B.S.

Puisi Minggu: Kisah Pilu Kartini Indonesia Karya Vera Verawati

Kartini oh Kartini. Mati muda karena mengalami pendarahan ketika melahirkan. Lahir 21 April 1879, wafat 17 September 1904. Setiap tahun kita merayakan kembayanya. Mendiskusikan sumur, dapur, kasur perempuan Jawa. Sekarang mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 16/II/20 – 26 April 2025 tentang “Kisah Pilu Kartini Indonesia” Karya Vera Verawati. Kartini Indonesia yang brenasib malang di Timur Tengah, karena para lelakinya mengirim mereka jadi pembantu.

Puisi Minggu: Menemukan Cahaya dalam Diri Karya Noorma Paramitha

Kumpulan puisi ini bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang berani hidup dalam
ketidaksempurnaan. Setiap bait adalah pelukan untuk diri yang lelah, bisikan untuk hati yang ragu, dan tarian untuk jiwa yang baru belajar terbang. Mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 14/II/6 April 2025 Menemukan Cahaya dalam Diri karya Noorma Paramitha dari Semarang. Selamat lebaran, ya! Siapakan ketupat dan semur dagingnya!

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==