Jemuran di belakang rumah berdiri seperti saksi bisu yang tak pernah protes. Dari tempatku berdiri, Gunung Ciremai menjulang gagah, meski puncaknya hampir selalu dibalut kabut. Setiap pagi, aku menjemur pakaian dengan perasaan yang entah, seperti pakaian-pakaian itu memintaku untuk berbagi cerita, atau mungkin aku yang berharap mereka bisa mengambil sebagian beban hidupku.
Di sini, di pinggiran kampung kecil ini, hidupku bergerak pelan seperti sepeda tua yang rantainya hampir putus. Rumah-rumah berdiri berjarak dengan halaman luas. Pohon mangga, pisang, dan pete menjadi pelengkap yang membuat kampung kami terlihat lebih teduh daripada kenyataan hidup para penghuninya.
Tiga bulan terakhir, bayangan Pak Iim, rentenir kampung sebelah, terus membayangiku seperti awan kelabu di atas kepala. “Cicilan bulan ini bagaimana, Bu?” tanyanya waktu itu, suaranya dingin dan tegas. Aku hanya bisa menunduk. Bagaimana harus kujawab?
Di rumah, suamiku lebih banyak diam. Bukan tipe lelaki yang suka menyalahkan orang lain, tapi bukan juga yang mau menerima kenyataan. Toko kelontong yang kami jalankan selama lima tahun telah berubah jadi kenangan pahit. Awalnya, usaha itu membawa harapan. Orang-orang kampung suka datang membeli barang kecil, seperti sabun, kopi, minyak goreng. Tapi pandemi mengubah segalanya. Barang tak laku, harga melonjak, sementara utang untuk modal terus menghimpit.
“Abi, kalau tokonya tutup, apa kita bisa bayar utang?” tanyaku suatu malam, setelah melihat buku catatan yang lebih mirip daftar kesialan.
“Pasti bisa, Ummi. Aku akan cari cara,” jawabnya, tapi sorot matanya jauh, seperti melayang ke tempat di mana jawabannya tak kunjung ditemukan.
Akhirnya, toko itu tutup. Rak-rak kosong yang dulu penuh barang kini berdiri seperti monumen kekalahan. Sebagian barang dijual murah, sebagian lagi diambil orang-orang yang berutang pada kami, ironi yang terlalu pahit untuk ditertawakan.
“Apa aku cari kerja saja, ya? Sembari kamu mikir-mikir mau mulai usaha apa lagi,” kataku suatu malam, setelah kami duduk diam cukup lama di ruang tamu yang hanya diterangi lampu redup.
Suamiku diam. Mungkin kata-kataku seperti tusukan jarum, pelan tapi menusuk dalam, meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang suami. Sepuluh tahun jadi ibu rumah tangga membuatku merasa tidak punya keahlian apa-apa, ditambah lagi pendidikan yang tak tinggi. Dunia luar adalah tempat yang asing dan menakutkan, penuh hiruk-pikuk yang membuatku gentar.
Tapi pagi itu, kakiku tetap melangkah.
Aku memilih kemeja putih yang sudah sedikit pudar warnanya karena sudah terlalu lama tersimpan di lemari, dan celana hitam panjang yang longgar. Satu-satunya pakaian rapi yang kupunya. Rambutku yang tipis tertutup jilbab segiempat warna hitam. Aku mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju pasar Ciawi, tempat yang selalu ramai meski hidup orang-orangnya tak selalu mudah.
Di pasar, para pedagang meneriakkan barang dagangannya, ibu-ibu menawar harga, anak-anak berlari dengan tangan penuh jajanan. Bau tape ketan bercampur dengan aroma ikan asin dan keringat manusia memenuhi udara. Aku mengetuk pintu warung satu per satu, menawarkan diri untuk membantu, mencuci piring misalnya, memasak, atau apa saja.
“Maaf, Bu. Belum butuh orang,” begitu jawaban yang terus kudengar.
Hujan mulai turun gerimis, membuatku berlindung di bawah atap gerobak bakso yang ditinggalkan pemiliknya. Saat itu, dunia terasa begitu besar dan aku hanya butiran kecil yang terhanyut.
“Ibu cari kerja, ya?” Sebuah suara menyapaku. Aku mendongak dan melihat seorang perempuan tua dengan senyum yang menenangkan. Dia adalah Bu Yati, pemilik warung nasi di pasar, yang namanya sering kudengar dari cerita tetangga.
“Iya, Bu. Kalau ada apa-apa, saya siap,” jawabku singkat.
“Datang ke warung saya besok pagi. Bantu-bantu cuci piring dan bersih-bersih, ya. Gajinya nggak besar, tapi lumayan buat tambahan,” katanya.
Esoknya, aku memulai kerja di warung Bu Yati. Dari pagi hingga sore, tanganku tak pernah berhenti mencuci piring, mengelap meja, dan membersihkan lantai. Di sela-sela itu, aku sering mendengar obrolan pelanggan, keluhan tentang harga sembako, cerita tentang anak-anak mereka, atau sesekali kabar tentang kampung sebelah.
Setiap pulang, aku menemukan Hisyam sudah tertidur, dan suamiku masih duduk termenung di kursi ruang tamu, seperti patung yang lelah menopang dirinya sendiri.
“Kenapa Ummi nggak di rumah lagi?” Hisyam bertanya suatu malam, ketika aku duduk di sisinya.
Aku terdiam. Bagaimana menjelaskan pada seorang anak kecil bahwa dunia tidak seindah dongeng sebelum tidur? “Ummi cari uang buat Hisyam sekolah,” jawabku akhirnya.
Tapi aku tahu, jawaban itu tidak cukup.

Beberapa bulan berlalu, dan penghasilanku dari warung tidak lagi cukup. Hisyam mulai membutuhkan uang lebih banyak untuk buku pelajaran, sementara suamiku masih enggan mencari pekerjaan di luar rumah. Dia lebih sering bicara tentang rencana usaha kelontong baru yang katanya akan lebih baik, lebih besar. Tapi rencana itu tetap rencana, seperti mimpi yang tak pernah sampai.
“Aku nggak mau kerja di orang, Mi,” katanya suatu malam ketika aku mengusulkan agar dia melamar kerja di pabrik dekat kampung.
“Tapi usaha butuh modal, Bi. Kita nggak punya apa-apa lagi.”
Dia tidak menjawab. Hanya diam, seperti biasa.
Aku tahu aku tak bisa menunggu. Dengan uang yang kukumpulkan sedikit demi sedikit, aku mulai membuat aneka kue tradisional seperti onde-onde, bolu kukus, dan kue lapis, yang kutiru resepnya dari youtube. Kue-kue itu kubawa ke warung-warung sekitar, kutawarkan dengan harga murah yang penting bisa menutup modal walau untungnya sedikit. Lambat laun, pesananku bertambah. Beberapa tetangga mulai memesan untuk arisan atau acara keluarga.
Suamiku melihat itu dengan raut yang sulit kuartikan. Mungkin dia malu, mungkin juga lega. Tapi aku tidak peduli. Yang penting, kami bisa tetap makan dan Hisyam tetap sekolah.
“Ummi capek?” Hisyam bertanya lagi suatu malam, suaranya pelan seperti berbisik.
Aku tersenyum, meski tubuhku terasa remuk setelah seharian bekerja. “Capek itu biasa, Nak. Yang penting kita tetap semangat.”
Malam itu, aku duduk di halaman belakang, memandang jemuran yang kosong. Jemuran itu tidak lagi sekadar tempat menggantung pakaian, tapi juga harapan. Aku merasa, meski hidupku penuh dengan beban seperti kain-kain basah itu, aku masih bisa berdiri tegak, seperti jemuran yang tidak menyerah pada angin dan juga hujan.
***
Kuningan, 11 Januari 2025


TENTANG PENULIS: Penulis adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua balita, tinggal di Kabupaten Kuningan, masih belajar menulis tapi sudah lama jatuh cinta pada dunia menulis sejak SD. Saat ini, aktif mengirim karya ke media, karya-karyanya berupa cerpen dan resensi buku sering dimuat di media daring seperti magrib.id, idntimes, dan yoursay.id.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Redaksi menyediakan honor Rp. 100 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


