Cinta dan Gerakan Reformasi (10)

Meski awalnya sempat ada larangan dari Rektor Unisba, Djawad Dahlan, sejumlah spanduk terus saja kami gelar. Antara lain bertuliskan: “Rakyat ditindas, buruh diperas, mahasiswa bungkam, penguasa menggila”. Ada lagi yang bunyinya: “Rakyat menangis, buruh menjerit, pembangunan untuk siapa?”. Lalu juga: “Merasa bersalah, drama Marsinah Menggugat dicekal ha..ha..ha..”, dan juga “Pelaksanaan HAM di Indonesia cuma basa basi”.

Selain spanduk, digelar juga seni jeprut dan lagu-lagu perjuangan ciptaan mahasiswa yang tergabung dalam STUBA-Studi Teater Unisba. Nada yang disampaikan dalam lagu tersebut berisi protes atau keprihatinan terhadap pelaksanaan HAM di Indonesia selama ini. “Tasikmalaya, kota santri rusuh karena oknum polisi. Kota Sampang membara lagi, kotak suaranya dibawa pergi. Bank-bank sakit dilikuidasi, ucapan selamat buat Bapak Mar’ie. Dan marilah tertawa, menangislah semaumu, semampumu,” demikian penggalan isi lagu yang mereka bawakan.

Dalam aksi itu, kami meminta DPR/MPR untuk memasukkan HAM ke dalam TAP MPR. Kami juga minta DPR/MPR mengutuk perbuatan Menteri Tenaga Kerja atas kasus dana Jamsostek, dan meminta pengusutan secara tuntas secara hukum terhadap kasus tersebut.

Kami juga menuntut dihentikannya segala bentuk pelarangan dan pembredelan. Serta menginginkan agar HAM ditegakkan dan dihormati di bumi Indonesia. Kami menghimbau kepada seluruh elemen demokrasi untuk merapatkan barisan guna menegakkan kedaulatan rakyat.

Aksi makin panas. Menjelang pukul 2 siang, para mahasiswa berencana turun ke jalan. Namun, baru sekitar 100 meter keluar halaman kampus, kami dihadang sekitar 25 pasukan anti huru hara. Aparat kemudian mencoba berdialog dengan kami peserta aksi, tapi tak membuahkan hasil. Sebab aparat ingin mahasiswa kembali ke kampus, sedangkan kami sendiri tetap bersikeras untuk meneruskan aksi long march menuju gedung DPRD Jabar yang terletak sekitar empat kilometer dari kampus Unisba. Polisi lalu menawarkan agar mahasiswa bersedua ke gedung DPRD dengan kendaraan (bis) yang mereka sediakan. Namun usulan itu juga ditolak.

Para mahasiswa kemudian mencari jalur lain. Sayang, kami pun dikepung dari arah yang baru. Tak lama kemudian, entah siapa yang memulai, terjadilah bentrokan fisik sesaat dengan aparat dari kepolisian. Tampak sekali aparat sangat bergairah untuk mengejar dan menggebuk mahasiswa. Beberapa di antara kami mengalami cedera ringan.

Pemukulan oleh aparat itu membuat para mahasiswa makin emosional. Kami pun kemudian menggelar aksi duduk di Jalan Taman Sari, di muka kampus Unisba, sehingga arus lalu lintas bertambah macet dan polisi menutup beberapa ruas jalan di dekat lokasi aksi. Datanglah sekitar 20 pasukan anti huru hara dari AD dengan berkendaraan motor, namun mereka (AD) tidak berbuat apa-apa alias lebih banyak diam dan berada di belakang polisi.

Dandim Bandung Letkol Anhar terus mencoba berdialog dengan para mahasiswa. Tapi gagal total, karena mahasiswa rupanya sudah patah arang. Upaya Letkol Anhar malah kami balas dengan pernyataan “kami perlu bukti” atau “kami tidak mau diwakilkan. Wakil rakyat sudah banyak. Kami tak mau jadi wakil rakyat yang mandul dan impoten”. Teriakan mahasiswa ini mendapat dukungan dari rekan-rekannya. “Kami tak akan bubar sampai semua aparat meninggalkan daerah kampus ini,” ujar salah seorang pimpinan mahasiwa itu.

Mahasiswa baru mau bubar setelah Letkol Anhar berjanji menarik pasukannya, asal mahasiswa juga kembali masuk ke dalam kampus. Para mahasiswa Unisba itu juga meminta agar aparat keamanan jangan memprovokasi dengan menyusup ke dalam kampus. “Kesepakatan” akhirnya tercapai. Menjelang sore hari, aksi itu usai dengan korban beberapa mahasiswa cedera.

Bersambung ke bagian 11

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==