Demi FYP dan Dollar: Ketika Sensasi Mengubur Akal Sehat

Oleh: Anita Aprilia

Facebook Pro (Facebook Professional Mode) menjadi ladang basah untuk meraup berbagai keuntungan. Sejak kemunculannya, publik sempat digemparkan dengan fakta menarik. Yakni memungkinkan penggunanya mendapatkan penghasilan dollar dalam jumlah fantastis, tidak terbatas.

Hal ini dijelaskan langsung di halaman resmi Facebook. Merasa tertarik dengan hal ini, saya putuskan untuk membaca lebih jauh ketentuan-ketentuan penggunaan. Berharap besar bisa menjadi content creator di sana dan memperoleh kekayaan.

Dari informasi yang saya baca di halaman resmi Facebook, jelas bahwa pengguna akun pro akan mendapatkan penghasilan dengan melakukan monetisasi akun. Kemudian, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Nantinya, penghasilan pengguna akan diperoleh lewat iklan in-stream, hadiah, bintang, sampai langganan.

Siapa sangka kalau hal ini membuat pengguna FB berbondong-bondong memonetisasi akun FB mereka, dan melabeli dirinya sebagai content creator. Keinginan viral yang berlebihan justru menjelma menjadi ajang pelucutan moral. Orang-orang yang sebelumnya tak pernah aktif di Facebook mendadak rajin upload apapun—bahkan hal paling receh—demi mengejar algoritma. Dan ini jugalah yang menjadi cikal-bakal mengapa banyak orang yang justru berhenti menggunakan Facebook.

Ledakan Facebook Pro dan Ambisi Viral

Hingga kini, belum ada data resmi terkait jumlah pengguna FB Pro di Indonesia. Meski demikian, saya yakin betul jika mayoritas pengguna FB berusaha memonetisasi akun mereka. Dengan harapan yang besar, bisa menjadi content creator yang video-videonya viral, mendapatkan bintang, lalu bisa memunculkan iklan in-stream. Mengapa saya sangat yakin, padahal tidak ada data resminya?

Sebagai pengguna Facebook, kita bisa melihat status akun seseorang. Apakah hanya akun FB biasa atau akun yang sudah menggunakan mode profesional. Dua tahun belakangan ini, mayoritas teman-teman saya sudah menggunakan akun mode profesional.

Itu artinya, dua tahun belakangan ini juga akun-akun tersebut memposting berbagai hal. Yang biasanya hanya menjadi pengamat, tidak pernah posting-posting, kini mendadak rajin posting. Bahkan, hal paling tidak penting pun tetap masuk ke dalam beranda mereka. Mulai dari video satu detik, video buang-buang makanan, sampai membuka daster di depan kamera. Umumnya, ini dilakukan karena yang bersangkutan sudah kehabisan ide, atau malah memang tidak punya ide sama sekali.

Grup FB Pro: Lahan Saling Bantu demi Engagement

Sebagai mantan pengguna FB Pro dan pernah mengaku sebagai content creator di sana, saya tahu jelas bagaimana sulitnya mendapatkan penghasilan dollar. Pasalnya, ada level-level yang harus dituntaskan. Dan di masing-masing levelnya tersedia segudang tugas yang harus dikerjakan. Termasuk di antaranya jumlah pengikut dan jumlah tayang. Biasanya, pengguna akan mencari bantuan lewat grup-grup FB Pro.

Misalnya, meminta bantuan di grup FB Pro Indonesia dengan jumlah anggota 79 ribu. Kita hanya perlu memposting konten di sana, dan menambahkan keterangan. Bisa keterangan meminta bantuan anggota untuk mengikuti akun, atau untuk menonton konten tersebut dan memberikan like atau komentar. Jumlah grup FB Pro yang banyak ditambah dengan jumlah anggotanya yang banyak membuat saya semakin yakin, bahwa jumlah pengguna FB Pro memang sebanyak itu dan akan terus bertambah.

Banjir Komentar Kosong dan Interaksi Palsu

Interaksi sesama pengguna adalah kunci sukses seorang content creator FB Pro. Tampaknya, content creator aplikasi biru memang dituntut untuk SKSD dengan pengguna lain. Kalau tidak demikian, level akan menurun lantaran tidak berhasil menyelesaikan tugas atau misi.

Sangat disayangkan, hal ini yang akhirnya membuat banyak akun berkomentar ngasal, tidak sesuai, atau bahkan ngelantur dan mendukung tindakan yang tidak senonoh secara tidak langsung.

Bagi saya, content creator adalah pekerjaan yang ‘cukup sulit’. Karena selain memikirkan konsep video, seorang content creator juga harus mempertimbangkan berbagai aspek. Mulai dari pengambilan video, lighting atau pencahayaan, sampai melakuan teknik editing yang tidak mudah.

Tidak heran jika menghasilkan satu video saja butuh waktu dan effort yang besar. Sayangnya, di aplikasi biru ini berbeda. Cara yang ditempuh sebagian besar orang justru menyimpang dari nilai-nilai yang sudah kita pegang sejak lama.

Fenomena membuang makanan demi viral ini ternyata bukan kasus tunggal. Dan jelas bahwa akun FB Bundanya Ara bukan satu-satunya akun yang menumpahkan minyak goreng ke lantai dan menumpahkan beras ke mesin cuci. Di TikTok dan Facebook Pro, kita juga bisa menemukan akun-akun lain yang melakukan hal serupa.

Misalnya, ada konten viral seorang kreator asal Jawa Barat yang menuangkan puluhan kilo mie instan ke selokan hanya demi mendapatkan views. Ada juga kasus “susu tumpah challenge” yang sempat ramai di Facebook, di mana beberapa pengguna dengan sengaja menumpahkan susu kotak ke lantai atau jalanan hanya demi dianggap kreatif. Bahkan di luar negeri, sempat viral tren “milk crate challenge” yang bikin susu terbuang percuma dalam jumlah besar.

Jika ditarik lebih jauh, tren ini menunjukkan adanya pergeseran nilai di kalangan content creator amatir. Monetisasi membuat banyak orang rela “mengorbankan sesuatu yang konkret”—entah itu makanan, barang, bahkan harga diri—demi

sesuatu yang abstrak bernama engagement. Padahal, data BPS 2023 menunjukkan bahwa sekitar 9,36% penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Ironis, ketika ada orang yang susah payah mencari beras, di sisi lain beras justru ditumpahkan ke mesin cuci hanya demi algoritma.

Lebih parahnya lagi, algoritma Facebook Pro justru memberi panggung pada konten-konten absurd seperti itu. Video yang memancing kontroversi biasanya lebih cepat viral karena menuai komentar, meski isinya caci maki.

Logikanya sederhana: makin banyak interaksi, makin besar peluang sang kreator naik level dan meraup dollar. Di titik inilah kita bisa bilang, algoritma lebih menghargai sensasi dibanding substansi.

Pada akhirnya, fenomena ini memunculkan pertanyaan serius: apakah demi mengejar dolar dan popularitas, kita rela menanggalkan nalar sehat, etika, bahkan empati sosial? Kalau iya, jangan-jangan yang tumpah bukan hanya minyak goreng dan beras, tapi juga moral kolektif kita.

Tentang Penulis:  

Anita Aprilia Penulis yang gemar membagikan informasi seputar religi, nutrisi, travelling, dan kuliner.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==