Dimana dalam bercocok tanam ada ritual adat yang harus dilakukan sejak persiapan menanam hingga memanen. Salah satunya adalah “kebek bekur” yaitu ritual adat sebagai ungkapan syukur atas hasil yang dipanen. Sebelum melakukan kebek bekur, biji-biji padi harus dipisahkan dari bulirnya. Aktivitas memisahkan biji padi dari bulirnya disebut ri’i. Dan Baobala selalu didendangkan saat acara ri’i dimana kaki dihentakkan secara berirama di atas tikar yang sudah ditebari bulir-bulir padi.

Cerpen-cerpen dalam buku tersebut juga ditulis dalam kapasitas sebagai kepala keluarga dan sebagai pendidik. Cerpen berjudul “Bercak di Selendang Ibu”, misalnya mengisahkan tentang Vena, seorang anak dari kampung yang karena ingin menimba ilmu di kota harus meninggalkan orangtuanya dan tinggal bersama keluarganya di kota. Tetapi hidup dan tinggal bersama keluarga yang lain tidak selamanya menyenangkan. Kadang harus mendapat penolakan bahkan pengusiran.

Cerpen lain berjudul “Tangis Tak Terdengar“ mengisahkan bagaimana cinta, perhatian dan kasih sayang yang diberikan orangtua terhadap anak. Setiap orangtua tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun kadang harapan orangtua untuk membentuk anak lewat didikannya tidak sesuai keinginan anak. Clara seorang putri semata wayang dalam keluarga berani meneguk racun karena tidak tahan mengahdapi didikan orangtua (Ibunya) yang begitu keras.

Cerpen berjudul “Tafakur di Kala Kabur” mengangkat kisah bagaimana kehadiran virus corona mengancam kehidupan keluarga. Baik secara ekonomi maupun kesehatan. Adalah keluarga kecil Peu, yang hidup bersama dua putranya terkena imbas serangan korona. anaknya Mau yang bekerja di kantor harus menerima kenyataan diPHK. Sementara Peu yang memiliki riwayat asma hidup dalam rasa cemas. Jangan-jangan ia akan terserang Covid-19 dan harus dikarantina.

Cerpen “Nadia, Ceritamu di Kamis Nan Gerah” mengangkat kisah seorang guru, Nadia dalam tugas pengabdian untuk mencerdaskan anak bangsa. Walau berhadapan dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung, ibu guru Nadi berusaha menghidupkan gerakan literasi di sekolahnya. Tanggapan yang beragam dan dukungan yang tidak penuh dari lingkungan kerja tidak pernah menyurutkan tekad ibu Nadia dalam menyebarkan virus literasi.
Cerpen lain berjudul “Kujumpaimu Rani” dikisahkan Rani seorang guru yang baru lulus test CPNS. sebagai guru muda, Rani menghadapi tuntutan administrasi pendidik yang menumpuk yang kadang membuatnya kelelahan di awal tugas. Namun sebagai abdi negara Rani begitu tabah menjalani profesinya walau harus bergelut dengan segala bentuk administrasi yang membebankan.

Membaca Denting Baobala ini seolah membangkitkan keinginan saya yang terpendam selama ini: membukukan tulisan yang telah dipublikasikan di berbagai media. Ini adalah mimpi lama saya. Dan Joni Liwu telah membangunkan saya dari mimpi itu lewat Denting Baobala di Bulan Juli. Ya, cepat atau lambat, pasti akan saya bukukan juga. Suatu saat nanti. Semoga.

Informasi buku:
Judul buku: Denting Baobala di Bulan Juni
Penulis: Yohanes Joni Liwu
Penerbit: Delta Pustakan
ISBN: 978-623-6607-40-0
Halaman: xii + 146

RESENSI BUKU: Ini adalah halaman resensi buku. Perasaanmu setelah membaca buku. Jika Anda sudah membaca buku, apa yang Anda rasakan? Tuliskan di sini. Sertakan foto diri, buat ilustrasi foto Anda dengan cover buku yang Anda resensi. Ada uang sebagai ganti pulsa sebesar Rp. 100 ribu dari Honda Banten. Kirimkan resensi Anda antara 700 – 1000 kata ke email: gongtravelling@gmail.com .


