Saya pernah membayangkan pemain berdarah Indonsia yang mukim di Belanda seperti Simon Tahamata, pulang ke Indonesia untuk melatih. Kemudian Giovanni van Bronckhorst. Tapi, PSSI sebelum Erick Thohir memang bobrok. Judi, pengaturan skor, pemain titipan…

Puncak karir saya di bola saat jadi striker tim sepakbola kontingen Jawa Barat untuk Pekan Olahraga Penyandang Cacat di Surabaya, 1985. Finalnya melawan Jawa Timur. Saya main di babak kedua dan ngegolin satu. Kami menang dan menggondol medali emas.
Jadi, saya tahu betul bagaimana rasanya jadi atlet yang bersimbah keringat di lapangan. Jika hatinya bersih, dia hanya ingin mempersembahkan medali atau juara untuk sesuatu yang dibelanya dengan semangat sportivitas tinggi. Apakah itu negaranya atau daerahnya.

Ketika saya jadi atlet penyadang cacat antara 1985-89, saya dituntut untuk serba bisa. Saya ikut cabang olahraga badminton dan lompat tinggi untuk level Asian Para Games (dulu Fespic Games) di Solo (1986) dan Kobe Japan (1989).
Saya menyabet 3 emas cabor badminton (single, double, beregu) di Solo. Di Jepang, emas tunggal lepas, saya juara ketiga. Tapi double dan beregu tetap emas. Untuk lompat tinggi di PON Penyandang Cacat, saya juara kedua dengan gaya flop, 165 Cm. Saat lompatan ketinggian 170 cm gagal.

Usia saya 15 Agustus 2024 lalu 61 tahun, hanya bisa mengenang saat tubuh bugar dan energi berlebihan. Saya senang berlari hingga usia 30 tahun. Itu sebab saat muda saya senang traveling untuk menyalurkan energi saya yang berlebihan. Setelah itu, tubuh saya “rusak” karena bekerja di dunia creative (Gramedia, RCTI) yang lebih banyak duduk.
Malam nanti timnas bola kita akan menghadapi timnas bola China. Setelah kemenangan dirampok wasit (saya pernah juga mengalami kemenangan saya dirampok oleh wasit dan penjaga garis saat bertanding badminton) atas Bahrain, 3 point di China sangatlah penting.

Mohon maaf, kepada teman-teman yang tidak pernah bersimbah keringat di lapangan demi bangsa dan negara untuk 1 cabang olahraga, mari kita doakan timnas kita agar menang. Jika menang, kita syukuri dan apreasiasi. Jika kalah, kita dorong lagi agar tetap semangat. Kita tidak perlu jadi mendadak ahli kemudian nyinyir atau sinis kepada para pemain dan pelatih jika belum pernah berlomba di lapangan demi bangsa dan negara.
Kalau kita mencibir dengan alasan ketidaksukaan kita, kemudian mereka mendengar cibiran kalian, itu akan merusak konsentrasi mereka. Saya pernah mengalaminya saat ikut Kejuaran Badminton Yunior se-Jawa Barat di Sukabumi, 1981. Saat masuk lapangan, ada yang meledek tangan kiri saya buntung. Lawan saya tentu atlet badminton berlengan dua dari Kuningan. Set pertama, buyar konsentrasi saya, karena memikirkan ledekan tadi. Set pertama kalah. Untung saya bisa bangkit, set kedua menang, kemudian set ketiga juga menang.

Dalam olahraga itu kuncinya hanya satu, pemain, pelatih, wasit dan penonton hatinya bersih demi menjunjung tinggi sportivtas. Ini kesempatan kita menyanyikan lagu Indonesia Raya di stadion-stadion besar dan bergengsi di negara orang. Saya pernah menyanyikannya 2 kali di Kobe Jepang. Itu sangat membanggakan dan sulit dilukiskan. Air mata saya menetes. Kalian harus datang menonton ke stadion dan ikut menyanyikannya bersama para pemain dan penonton di stadion.
Sekali lagi, nanti malam kita bergembira menontonnya; timnas kita melawan timnas China. Juga untuk perjuangan berikutnya melawan Jepang. Jangan ada kontra terhadap timnas sepakbola kita, karena mereka membela bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai. Kita harus penuh mendukung dan mendoakan mereka agar merebut 3 point dari China. Aamiin.
Tetap semangat
Gol A Gong
mantan atlet era 80-90an




