Esai: Kembali kepada Kesucian?

Setelah saya renungkan kembali, kembali kepada kesucian atau fitri tanpa dosa itu adalah sesuatu yang luar biasa. Benar-benar sangat luar biasa. Seorang manusia, yang menjadi tempat salah dan lupa-alpa—meski nampaknya lebih banyak salahnya tinimbang lupanya—beserta dengan seluruh salah-dosanya dan buruk-bobroknya, bisa menjadi kembali suci tanpa dosa di satu hari yang jatuh pada hari pertama bulan Syawal.

Tapi, benarkah itu terjadi pada kita? Kita mungkin melaksanakan puasa (baca: tidak makan) dari Subuh hingga Magrib, mendirikan salat fardu lima kali sehari beserta salat-salat sunah, dan membayar zakat fitrah di bulan Ramadan serta bersalam-salaman sambil bermaaf-maafan dengan keluarga, tetangga dan siapa pun—baik yang kita suka atau benci—yang kita jumpai di hari Lebaran, tapi benarkah kita meminta maaf dan memaafkan mereka semua? Atau jangan-jangan hanya tangan kita saja yang bersalaman sambil memasang senyum palsu sambil berkata “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin”? Lalu setelah hari itu kita kembali pada kebiasaan buruk kita, pada dosa-dosa yang lama maupun dosa-dosa yang baru!

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang telah menzalimi kita secara langsung maupun tak langsung seperti para pejabat yang korupsi—bahkan ada yang kena OTT oleh KPK di bulan puasa, para penegak hukum yang memerkosa seraya membunuh hukum, para penguasa dan pengusaha yang menghancurkan alam tempat kita hidup, dan semacamnya dan semacamnya? Apakah mereka juga harus dimaafkan begitu saja? Bolehkah kita tidak memaafkan orang-orang semacam itu di hari yang suci dan penuh keberkahan ini? Apakah mereka juga mendapatkan pengampunan dari-Nya, meski setelah itu mereka kembali pada kebiasaan keji mereka itu?

Dari hari ke hari kita menyaksikan sendiri dengan mata kepala kita bagaimana alam indah tempat kita bernaung semakin rusak semakin hancur! Di sepanjang Jalan Lingkar Selatan Cilegon bukit-bukit terus dikeruk demi memuaskan beberapa perut. Pantai-pantai semakin kotor karena bejibun sampah plastik dan polusi pabrik. Pembangunan perumahan semakin masif di setiap kota dan kabupaten bersamaan dengan tumbang-hilangnya lahan-lahan hijau dan segar seperti sawah-sawah dan hutan-hutan. Daerah-daerah yang dulu tak terkena banjir bila hujan datang kini malah menjadi sasaran empuk untuk banjir. Udara panas semakin menggila. Polusi meninggi. Kehancuran alam semakin nyata.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==