Oleh: Mario Djegho (Pengelola Taman Baca Rumah Literasi Cakrawala NTT)
Mengimajinasikan kehidupan bangsa yang cerdas, apalagi secara berkelanjutan, adalah hal terindah yang patut diwujudnyatakan. Bangsa yang cerdas mampu bersaing di setiap lini kehidupan, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional.
Hal ini menjadi acuan bagi Indonesia untuk mewujudkan generasi emas 2045 sebagai visi jangka panjang. Saat itu, pada tahun 2045, Indonesia berusia seratus tahun dan diharapkan sudah terlahir kembali sebagai negara yang maju dan mampu bersaing secara global.
Dalam konteks lokal, visi mulia tersebut dapat diadopsi oleh pemerintah daerah sebagai acuan dalam mengembangkan konsep pembangunan yang merata dan berkelanjutan. Konsep pembangunan tersebut bisa terejawantahkan apabila kapasitas sumber daya manusia tersedia secara merata. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia bisa dilakukan secara maksimal, salah satunya, melalui proses pendidikan yang matang dan seimbang.
Sejatinya, pendidikan adalah wadah formasi dan transformasi individu menjadi pribadi sekaligus menuju kondisi yang lebih baik. Menurut Aristoteles, filsuf Yunani yang dikenal sebagai Bapak Pengetahuan, pendidikan merupakan fondasi moralitas dan kecerdasan efektif yang bisa membentuk individu dan masyarakat yang baik dan cerdas.

Literasi sebagai Basis Pembelajaran Sepanjang Hayat
Dalam realitas dewasa ini, pendidikan bisa diperoleh melalui jalur formal, nonformal, dan informal. Ketiganya memiliki peran dan esensi yang sama meskipun berbeda secara sistem, alur, dan proses.
Guna mendukung terwujudnya pendidikan yang matang dan seimbang, setiap individu yang berperan sebagai pembelajar harus mampu memetik hal-hal penting dalam proses pembelajaran. Hal ini bisa terjadi apabila setiap individu memiliki kecakapan literasi sebagai basis utama.
Literasi merupakan kemampuan atau keterampilan dalam mengakses, memahami, mengelola, dan mengaplikasikan informasi dan pengetahuan secara tekstual maupun kontekstual sehingga dapat menempatkan diri dan menyelesaikan persoalan dengan maksimal.
Di sisi senada, UNESCO (1996) menempatkan literasi sebagai dasar dalam mengimplementasikan empat pilar pembelajaran sepanjang hayat, yakni belajar untuk berpikir dan memahami (learn to know), belajar untuk melakukan sesuatu (learn to do), belajar untuk menjadi (learn to be), serta belajar untuk hidup bersama (learn to live together).
Dengan kata lain, literasi dapat menjadi jembatan penghubung antara teks dan konteks serta teori dan praktik sehingga memungkin pembelajar mengaktualisasikan diri sesuai kondisi dan kebutuhan sekitar.
Dalam praktiknya, literasi (dasar) mencakup beberapa bentuk, seperti literasi membaca dan menulis, literasi budaya, literasi digital, dan sebagainya. Semua bentuk ini bermuara pada titik yang sama, yakni melahirkan generasi yang literat. Untuk itu, peningkatan literasi harus dilakukan secara seimbang dan tepat sasaran.
Nantinya, sumber daya manusia yang telah tersedia mampu menunjang terwujudnya generasi emas Indonesia 2045. Maka dari itu, ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam mendukung upaya peningkatan literasi.
Literasi Membaca dan Menulis sebagai Pondasi
Pertama, meningkatkan literasi membaca dan menulis. Membaca dan menulis merupakan dasar utama dari bentuk literasi lainnya. Melek huruf menjadi indikator penting dalam mengukur indeks pembangunan manusia. Penguatan literasi membaca dan menulis harus diterapkan sejak dini dan dari akar rumput masyarakat.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membangun taman bacaan masyarakat (TBM) di setiap desa. Pembangunan taman baca dapat mengentaskan angka buta huruf, memberikan akses informasi dan pengetahuan, serta mendukung proses pendidikan informal secara maksimal. Kehadiran taman baca bisa memberikan dorongan atau rangsangan bagi minat membaca dan menulis sejak usia dini, terutama usia sekolah.
Literasi Budaya dan Penguatan Identitas Lokal
Kedua, menguatkan literasi budaya. Budaya merupakan proses kreatif yang melahirkan produk-produk kebudayaan di tengah masyarakat. Kebudayaan menjadi identitas tertentu yang menggambarkan kekhasaan atau jati diri masyarakat.
Warisan budaya tentu harus dijaga dan dilestarikan demi keberlangsungan identitas yang menjadi jati diri generasi selanjutnya. Di titik ini, literasi budaya berperan penting sebagai kecakapan khusus untuk memahami dan melestarikan kebudayaan sekaligus menerjemahkan makna yang terselubung di baliknya secara kontekstual. Hal ini bisa dilakukan dengan menguatkan eksistensi pendidikan muatan lokal dan pemberdayaan potensi lokal dalam ruang-ruang pembelajaran.
Literasi Digital di Tengah Disrupsi Teknologi
Ketiga, membiasakan literasi digital. Secara umum, literasi digital bisa diartikan sebagai kemampuan menggunakan, mengakses, dan mengelola teknologi atau media digital secara bijak demi kepentingan tertentu. Kemajuan teknologi menuntut setiap individu untuk menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan, apalagi di tengah disrupsi digital.
Setiap anggota masyarakat harus melek digital dengan mengasah kemampuan berdigital (digital culture), etika berdigital (digital etics), budaya berdigital (digital culture), dan keamanan berdigital (digital safety). Literasi digital membantu setiap anggota masyarakat agar bisa hidup selaras zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebaikan bersama.
Meningkatkan literasi membaca dan menulis, menguatkan literasi budaya, serta membiasakan literasi digital merupakan langkah-langkah strategis yang bisa menjadi batu loncatan dalam mewujudkan generasi yang literat. Untuk mendukung upaya peningkatan literasi membaca dan menulis, literasi budaya, serta literasi digital, semua pihak perlu melakukan beberapa strategi yang tepat sasaran.
Kolaborasi untuk Masa Depan Literasi
Pertama, memperkuat desa dan kelurahan sebagai jaringan belajar akar rumput. Eksistensi desa dan kelurahan memang harus dioptimalkan. Benih-benih literasi harus ditaburi dari lingkungan desa dan kelurahan sehingga tidak terjadi ketimpangan kemajuan masyarakat.
Satu desa/kelurahan, satu taman baca bisa menjadi program prioritas. Namun, keberadaan taman baca juga harus didukung oleh pengelola, manajemen, dan bahan-bahan bacaan yang berkualitas. Melalui program tersebut, setiap anggota masyarakat bisa mengentaskan angka buta huruf, memperoleh akses informasi dan pengetahuan, serta mendukung proses pendidikan informal secara maksimal.
Kedua, menggandeng komunitas lokal. Kolaborasi bersama komunitas lokal memang perlu dilakukan, apalagi dengan kondisi masyarakat yang membutuhkan figur-figur tertentu. Hal ini berkaitan erat dengan kedekatan dan kenyamanan.
Komunitas lokal bisa mengemban tugas sebagai pelopor sekaligus penggerak literasi di desa/kelurahan di mana ia berada. Nantinya, mereka bisa meningkatkan literasi membaca dan menulis, menguatkan literasi budaya, serta membiasakan literasi digital sesuai dengan karakteristik dan kondisi setiap masyarakat. Namun, pemberdayaan komunitas lokal harus disertai dengan pelatihan dan pengembangan sumber daya, baik dari segi manusia maupun sarana dan prasarana.
Ketiga, menunjang sarana dan prasarana digital. Memang, perkembangan teknologi di era digital sangat kuat dan bahkan tidak terbendung. Setiap anggota masyarakat harus hidup selaras dengan zaman. Namun, kehidupan yang selaras zaman harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya, khususnya sarana dan prasarana.
Masyarakat harus terbiasa dengan perkembangan teknologi sehingga bisa mendorong terciptanya masyarakat cerdas yang melek teknologi. Dengan sarana dan prasarana penunjang tersebut, setiap anggota masyarakat bisa belajar untuk menempatkan diri secara bijak dan mengelola informasi secara komprehensif untuk memperkuat eksistensi di era digital.
Upaya-upaya tersebut tidak hanya menampilkan sebuah imajinasi, tetapi juga wujud nyata dari generasi yang cerdas dan mampu bersaing di setiap lini kehidupan. Tentunya, segala upaya yang dilakukan tidak bisa terlepas dari semangat sinergitas-kolaboratif antarpihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun mitra-mitra pembangunan. Tanpanya, roda pergerakan akan berjalan pincang. Dengan begitu, asa untuk membangun generasi yang literat bisa terwujud.

Mario Djegho adalah salah satu Pengelola Taman Baca Rumah Literasi Cakrawala NTT. Sehari-hari, ia bekerja sebagai jurnalis pendidikan pada Media Pendidikan Cakrawala NTT. Di sela-sela aktivitasnya, ia sering menulis karya fiksi maupun nonfiksi. Aktivitas sehari-harinya bisa dilihat melalui instagram @ryo_destro.



