Essay: Tutupnya Toko Buku di Kotaku

Ya, toko buku itu tutup. Seperti ada yang aneh dalam diri saya. Mungkin terkesan naif tetapi saya mengakui toko buku itulah yang menjadi salah satu perjalanan penting dari kehidupan saya.

Saya coba bertanya kepada orang sekitar, “Keapa toko buku dibiarkan tutup?” Jelas sekali di antara raut wajah mereka, tidak ada kesan penyesalan. Buku ya buku, biarkan saja. Pusing juga kalau baca buku, jawab mereka.

Akhirnya di sini saya kembali menyimpulkan: buku memang bukanlah sesuatu yang populer. Kebanyakan warga lebih mati-matian dalam memanjakan diri pada posisi terluar; pakaian. Dengan pakaian yang mahal dan bermerek, penampilan jadi oke.

Tidak ada yang salah dengan hal ini. Kerapian dan tata krama berpakaian memang dianjurkan. Namun, apa jadinya jika tidak ada asupan nutrisi ke unsur dalam diri; hati dan pikiran.

Bisa saja ini diambil dari mengaji Al-Quran, tetapi dari mengaji ini apakah kita mengerti dengan terjemahannya? Apakah kita juga membaca terjemahannya? Sementara dalam menafsirkannya juga kita butuh orang yang benar-benar paham.

Atau juga apakah pada ngaji kita sudah benar-benar masuk ke sanubari dan mengaplikasikannya di dunia nyata?

Nah, kemudian buku-buku itu pada akhirnya menawarkan pemahaman, pendekatan atau semacam penyederhanaan pada pesan ilahiah seperti apa kita menjalani hidup dengan bahasa yang lebih sederhana.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==