Kembali pada tutupnya toko buku di kotaku. Ini menandakan bahwa memang tidak ada minat membeli. Tidak ada penawaran maka barang pun tiada. Itulah hukum dalam ekonomi.
Bisa ditarik kesimpulan bahwa memang warga di kota ini sulit membeli buku. Apakah warga di kotaku ini juga jarang baca buku? Untuk soal ini saya belum berani menyimpulkannya karena perlu dilakukan penelitian dahulu. Namun, jika boleh beropini, diindikasikan demikian jika menarik pada perilaku sebagian besar warganya.

Sebagai contoh kasus, membaca menjadi salah satu wasilah dari adanya tingkat intelektualitas seseorang. Intelektualitas pembaca buku kemudian menimbulkan ketenangan dan bisa menjadikannya sabar.

Sementara di kota ini, warganya tidak sabaran ketika dihadapkan pada lampu merah. Sudah banyak saya lihat kebanyakan warga jika sudah lampu merah berkedip mereka tidak tertib. Kebanyakan menghindar seperti nyalip dulu ke arah kiri jalan menuju ruas jalan lain kemudian meloloskan diri dari pemberhentian lampu merah.
Jika pun menunggu, ketika lampu hijau berkedip maka dengan serampangan akan menyalakan klakson berulangkali. Padahal mereka hanya perlu menunggu beberapa detik saja.

Adakah contoh lain? Mari kita renungkan. Yang jelas, sekali lagi, buku memang bukanlah yang populer di kota ini sehingga menimbulkan toko buku bangkrut. Namun, sepengalaman saya, di kota lain toko buku masih berjejer mewah dan warganya pun masih gandrung untuk membeli ya meski toko buku digital begitu merebak luas. Di sisi lain kita juga tertinggal lagi. Orang-orang mulai banyak membeli buku digital sementara kita membeli buku secara fisik saja luar biasa tantangannya.
Ah, betapa aneh memang para pembaca buku itu. Sebab, buku tidaklah sekejap memberikan kesenangan apalagi kekayaan. Namun, para pembaca buku selalu ingat apa yang disampaikan dalam ayat pertama yang turun dari langit kepada Junjungan Nabi Muhammad SAW, iqra. Betapa berdosanya jika mengabaikannya. Dan mungkin saja kita telah berdosa sehingga kota kita terlihat begitu muram dan seram.
Hilman Lemri
Relawan Rumah Dunia


Rubrik ini dukungan Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025 dan Honda Banten pada Gerakan Indonesia Menulis. Naskah esai literasi dan resensi buku/film 1000 kata, 1,5 spasi, bio narasi 5 kalimat, lengkapi dengan foto diri dan pendukung, nomor WA, dan norek bank. Diutamakan penulis yang aktif di komunitas literasi, pustakawan sekolah/kampus. Disediakan honorarium dari Honda Banten Rp 100 ribu.

