Sore ini (11/7) aku meminta anak-anak menggambar pohon di sekitar Rumah Dunia. Setelah selesai mereka harus menceritakan yang digambar. Sebagai hadiah anak-anak diberi makanan ringan yang telah disediakan.

Anak-anak ini punya buku masing-masing untuk berkarya. Aku menjilidnya sendiri di depan anak-anak itu, jadi mereka tahu proses penjilidan secara sederhana.

Bagi anak-anak yang bukunya telah penuh dengan karya, boleh membawanya pulang. Buku seukuran A6 itu kuharap bisa menjadi tonggak literasi di masa kecil mereka. Aku ingin membuatkan sebuah kotak kecil yang bisa menjadi tempat buat buku-buku yang telah penuh diisi dengan karya. Namun, tenaga dan waktu belum tersedia. 🤭

Aku masih memikirkan bentuk kotaknya, karena aku sudah membuatkan buku yang lebih besar, ukuran A5. Tentu dengan jilid sendiri.

Setiap akan memulai kegiatan, aku mensyaratkan agar anak-anak sudah mandi dan salat asar. Tentu saja ada yang nyelip dan berbohong. Awalnya kubiarkan, beberapa kali kubilang nggak perlu bohong. Hanya perlu beberapa menit untuk mandi dan salat, tidak perlu khawatir ditinggal.

Tetapi hari ini aku agak keras. Kubilang nggak menerima yang bohong. Jadilah peserta agak berkurang. Anak-anak yang lebih suka mandi lebih sore memilih tidak bergiat di Rumah Dunia daripada disuruh mandi. 🤭

Aku tidak peduli dan tetap meminta mereka mandi lalu salat asar lebih dulu. Kubilang, “Biar saja murid Bu Tias berkurang, asal yang datang sudah mandi dan salat.” 😂

Meskipun satu persatu anak-anak yang belum mandi bubar, masih tersisa anak-anak yang mengikuti aturan. Aku langsung memberi tugas untuk mereka. Belasan menit kemudian anak-anak yang semula bubar kembali lagi sudah dengan kondisi yang lebih bersih dan segar. 🤭
Alhamdulillah.
rumahdunia #tiastatanka #literasi #wefun #ceritacintadarirumahdunia


