Hilman Lemri: Penuls yang Mendambakan Perpustakaan Ideal di Pandeglang


Jelas saya sangat berterima kasih kepada para pendiri Mathla’ul Anwar, terutama kepada K.H. Mas Abdurrahman Bin K.H. Mas Jamal Al-Janakawi, juga kepada para ulama yang terus berjuang untuk kebaikan bangsanya. Kepada Syekh Asnawi yang makamnya hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah saya, kepada Syekh Nawawi Al-Bantani, juga kepada ulama di masa itu yang tidak kenal lelah dalam menuntut ilmu sehingga hal itu menjadi motivasi yang tiada tara bagi para generasi setelahnya. Secara tidak langsung, para leluhur itu, sudah memberikan tradisi intelektual untuk anak cucunya.

Perjuangan nyatanya belum berakhir. Saya menyadari ternyata iklim intelektualitas yang tinggi tidak berbanding lurus dengan tradisi menulis. Dengan berat hati saya perlu katakan bahwa ada yang kurang dalam tradisi menulis di Menes. Belum banyak juga cendikiawan muslim seperti Prof. Azyumardi Azra lahir dari tempat saya. Saya pernah berulang kali mencoba membuat komunitas menulis di Menes, membuat TBM dan semacamnya, tetapi gagal karena mungkin saya belum selesai dengan persoalan diri sendiri. Maka dari itu, saya memilih Rumah Dunia, di Kota Serang, untuk menempa diri saya dalam berbagai hal, terutama soal kepenulisan.

Dimulai pada tahun 2011, yang pada saat itu saya sedang kuliah di FISIP Untirta, Kota Serang, memutuskan bergabung di Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-18, yang diasuh oleh Gol A Gong dan Majelis Puisi Rumah Dunia yang dibina Toto ST Radik. Kemudian saya ditawari jadi relawan di Rumah Dunia sampai saat ini.

Di Rumah Dunia, saya memulai perjalanan mewujudkan mimpi menjadi menulis. Di sela-sela kuliah dan menjalankan roda kegiatan literasi Rumah Dunia, saya berusaha tekun belajar menulis. Hasilnya? Beberapa karya saya pernah di muat di berbagai media dan dibukukan jadi antologi oleh Gong Publishing dan penerbit lain di antaranya: Kumpulan cerpen “Nyarang” (2013), catatan perjalanan “Tur Gempa Literasi Jawa Tengah” (2013), antologi Puisi Penyair Banten “Reruntuhan Baluwarti” (2013), antologi Cerpen “Shalawat Kemarau” (2013), antologi esai “Ketika Firaun, Balaam dan Qorun Ikut Pilkada” (2017), kumpulan cerpen “Lege” (2017), kumpulan puisi “Berbisik kepada Bidadari” (2018), “Penyair dari Negeri Poci 5 dan 6 Tegal”, (2014-2015), “Puisi Menolak Korupsi 6” (2017), ’ “Pertemuan Penyair Nusantara X Banten” (2017) “Antologi Puisi Multatuli (Pemkab Lebak, 2018)”, “Duka Selat Sunda” (Gong Publishing, 2019) dan “Seperti Prajurit Kalah Perang” (Penerbit Epigraf, 2020).

Gerakan Indonesia Menulis
Saya memahami betul, kampung halaman saya tertinggal di dunia literasi baca-tulis. saya juga memaklumi, kenapa Indonesia selalu direndahkan di mata dunia jika berbicara soal kemampuan literasi baca-tulis, matematika, dan sains. Maka dari itu, upaya Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia yang menggagas Gerakan Indonesia Menulis (GIM) harus kita sambut dengan antusias. Ini adalah terobosan! Bagaimana tidak, jumlah buku yang terbit di Indonesia sangat jauh perbandingannya dengan pembaca, sehingga GIM ini diharapkan bisa memberikan solusi. Semoga bangsa ini mendapatkan pencerahan.

Di sisi lain, GIM ini juga harus didukung oleh semua pihak, karena harus berhadapan dengan buku bajakan. Kita sudah menulis tetapi masih tetap saja dibajak adalah pekerjaan rumah yang belum selesai sampai saat ini. Hukum memang sudah ada dan mungkin sudah dilaksanakan, dan tugas kita adalah melakukan penyadaran, melakukan pendekatan kepada pembaca apapun caranya sehingga mereka lebih memilih buku asli.

Penyadaran terkait buku bajakan itu pun harus semakin kencang karena era kini yang memasuki era buku digital. Generasi selanjutnya akan banyak menikmati buku digital atau biasa disebut e-book. Saya pernah mengunduh i-pusnas di masa pandemi ini dan ada banyak fitur yang menarik tetapi yang saya lihat, masih banyak yang belum tahu soal ini. Konten yang menarik ini sangat sayang apabila tidak banyak orang yang meresponsnya. Namun, buku fisik saya kira akan tetap ada dengan catatan masih digandrungi banyak penggilanya, dan suatu saat nanti kalaupun masih ada maka akan jadi primadona yang berniali besar.

Fenomena ini jelas membuat saya semakin semangat menulis di tengah profesi saya yang juga merupakan seorang editor buku di Untirta Press. Saya cukup kaget ketika Perpusnas RI merilis, bahwa idealnya menurut UNESCO, satu orang membaca tiga buku baru setiap tahunnya. Namun, realitasnya 90 orang berbagi dengan satu buku. Ini sungguh dilema karena buku yang banyak juga untuk apa jika tidak disentuh oleh masyarakat. Saya dengar di gedung baru Perpusnas RI yang megah itu, jadi tempat wisata literasi idola di Jakarta. Sedangkan di daerah saya, Pandeglang, belum menyeluruh terkait soal promosi yang belum begitu mengikuti tren masa kini.

Saya terenyuh karena masyarakat terkadang belum puas dengan kondisi buku yang ada di perpustakaan daerah khususnya di Pandeglang. Misalnya, seperti yang sudah saya kunjungi, koleksi buku belum begitu lengkap. Kemudian akses gedung perpustakaan, belum begitu represntatif bahkan masih ada banyak warga yang tidak tahu di mana letak perpustakaannya berada.

Perpustakaan daerah di Pandeglang dianggap tempat sepi karena fasilitas pendukung lainnya, seperti perpustakaan anak yang masih kurang kurang rekreatif. baiknya ada saranan pendukung, misalnya arena bermain sehingga menjadi magnet bagi para orangtua untuk mengajak anak-anaknya datang. Intinya, guna meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, agar tidak diremehkan, adalah distribusi buku ditingkatkan dan merata di seluruh pelosok Indonsia dan lebih memerhatikan nasib penulis dari berbagai sisi, terutama soal perlindungan kebijakannya.


Email : hilmanmenes@gmail.com
FB : Hilman Lemri
IG : @hilmanlemri
WA : 087779677912

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==