Ketika SMP, saya kalah karena cewek yang saya taksir janjinya mau menonton ternyata tidak hadir. Saya mencari-cari dia di tribun. Saya tidak bersemangat bertanding.
Kedua. Ada. Kejuaraan terbuka junior di Banten. Saya kalah karena salah lihat jadwal. Saya terlambat datang ke GOR. Saya kalah WO.

Dua kekalahan itu membuat dada ini sesak, seolah ada batu ganjalan. Ingin kulampiaskan kemarahan itu, tapi kepada siapa.
Saya rasa, hal itu juga menimpa para pesepakbola bola U-20. Hati mereka hancur. Mereka pasti menangis, mereka pasti marah. Ya, ingin marah tapi kepada siapa?

Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSSI baru sudah berusaha maksimal menemui FIFA di markasnya di Zurich, Swiss, untuk melobi FIFA terhadap kelanjutan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 2023. Tapi apa hendak di kata. Erick harus menelan pil pahit di awal kepemimpinannya. Tentu bukan salah Erick, tapi salah siapa? Salah bunda mengandung?

Kemudian saya ingat Johan Cruyff yang menolak main di World Cup Argentina 1978 karena ideologi politiknya memrotes invasi Inggris ke Malvinas. Crujjf mengorbankan dirinya tapi tidak timnas Belandanya. Secara pribadi tidak apa.

Begitulah olahraga. Spirit citius, altius, fortius tetap yang utama.
Tetap semangat berolahraga dan imbangi dengan membaca.
Gol A Gong
Duta Baca Indonesia

