Menjelang usia 70 tahun, Ilyas terpaksa menjual semua aset hartanya yang tersisa, dan menumpang bekerja untuk oranglain. Mantel tebal, topi kulit, sepatu bot yang ia banggakan saat kaya, kini tinggal kenangan. istrinya pun, yang tadinya cantik telah keriput menjadi nenek-nenek. Anak lelakinya telah pergi jauh ke kota lain, sementara anak perempuannya meninggal.

Beruntung ada seorang saudagar yang merasa iba kepada Ilyas dan istrinya, sehingga menampung dan menolong mereka agar bekerja di kebun melon miliknya. Ternyata tak sedikit teman majikan yang telah berbaik hati menampungnya mengenali Ilyas dan istrinya yang dahulunya memang terkenal sangat kaya raya.

Suatu waktu, ada seorang teman majikannya yang mengenal Ilyas semenjak masih bergelimang harta yang iseng bertanya kepada Ilyas bagaimana rasanya hidup melarat setelah bergelimang harta. Ilyas yang ditanya justru menyuruh sipenanya agar meminta pendapat istrinya.

Istri ilyas pun menjawab, “Selama hampir lima puluh tahun kami mencari kebahagiaan dan gagal menemukannya. Kini pada tahun kedua kami bekerja di sini, saat kami tak punya apa-apa lagi dan hidup sebagai orang upahan, kami justru menemukan kebahagiaan sejati dan tak memerlukan apa pun lagi.” “Lantas, apa yang sesungguhnya membuatmu bahagia sekarang?” ujar sipenanya penasaran. “Saat kami kaya, kami tak pernah merasakan kedamaian, tak ada waktu untuk bercakap-cakap, merenung tentang jiwa kami, atau berdoa kepada Tuhan, kami dihantui banyak kecemasan. Ketika banyak tamu, kami cemas khawatir tak bisa menjamu dengan baik. Cemas khawatir tak bisa memperlakukan pekerja kami dengan benar, kami takut berdosa. Saat hendak tidur, khawatir jangan-jangan ternak kami dimakan binatang buas. Kami pun menjadi sering ribut lantaran berselisih paham…”

“Lalu, sekarang?” ujar sipenanya kian penasaran. “Kini, kami bisa bangun pagi bersama. Bicara dari hati ke hati dengan penuh cinta dan kedamaian, tak pernah lagi bertengkar, tak ada lagi yang perlu kami cemaskan. Kami hanya perlu melayani majikan kami sebaik mungkin. Seusai bekerja, tersedia makanan dan minuman. Jika kedinginan ada selimut dan pendiangan yang menghangatkan tubuh kami. Ada banyak waktu untuk bercakap-cakap… kami akhirnya menemukan kebahagiaan setelah lima puluh tahun mencarinya” ujar istrinya Ilyas mantap.
Sepenggal cerita yang saya sarikan dari cerpen Tolstoy di atas, begitu menohok kesadaran atas kekeliruan kita selama ini dalam menentukan ukuran kebahagiaan, yang melulu mengandalkan kepemilikan harta kekayaan. Kebahagiaan menurut Tolstoy ternyata sangat sedehana yakni terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yakni sandang papan dan pangan, bukan melulu hak kepemilikan. Betapa banyak Ilyas-Ilyas hari ini yang mengalami kehancuran hidup hanya karena terlalu sibuk mengurusi dunia dan menyembelih nilai-nilai kemanusiaannya sendiri. Masih beruntung jika mampu menemui titik balik pencerahan hidup sebagaimana tokoh Ilyas yang dikarang Tolstoy, jika tidak sungguh celaka.

Untuk memungkasi esai sederhana ini saya ingin mengutip pernyataan Bertrand Russel yang menyatakan bahwa yang paling berharga dalam hidup (untuk kebahagiaan) tidak diukur oleh pertimbangan keuangan. “…Hal-hal yang sebetulnya penting bukan perumahan, tanah, mobil, real estate, tapi persahabatan, kepercayaan, keyakinan, empati, cinta, kasih, dan iman”. Wallahu alam *



