
Mulai dari anak yang terlahir buta (Bapakku, Cahayaku), istri yang bekerja sementara suaminya sakit (Misteri Cinta Abadi), cinta yang terbagi (Menggenggam Dua Cinta), anak tanpa ayah (Rahasia Ali), suami yang minta rujuk setelah berselingkuh (Panggil Aku Fatimah), mantan pacar (Karena Ku Tak Cinta), kasih sayang Bapak (Secangkir Teh Pahit Bapak), ditinggal mati pacar pujaan (Munajat Rindu Anisa), melihat tanpa mata (Aina), ditinggal mati suami (Pusaramu Saksi Bisu Cinta Kita), curiga suami selingkuh dengan pembantu (Prasangka), soal pasangan hidup (Asrama Gita), dan kejadian aneh (Dicegat Kuntilanak).
Tentu ketigabelas cerpen ini ditulis dengan teknik menulis yang berbeda-beda. Ada yang secara verbal, gaya diary, orang ketiga tunggal, ada yang curhat, ada yang menuliskannya begitu saja, tanpa memikirkan unsur intrinsik. Ada 3 cerita pendek yang menurut proses pembacaan saya, sangat menarik.
Cerpen “Bapakku, Cahayaku” ditulis Ramaditya, penulis yang mengalami kebutaan sejak lahir. Dia menuliskan kisah perjuangan seorang Bapak mengurusi tokoh “aku” yang buta. Rama seolah mengisahkan tentang hidupnya. Terutama tentang ayahnya, yang tidak ingin dirinya tumbuh minder sebagai tuna netra. Semoga para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus mendapat pencerahan, bahwa si anak tidak minta dilahirkan. Ketika si anak terlahir ke dunia, maka itu sudah menjadi tanggung jawab orang tua. Tergambar jelas, bagaimana si ayah menempuh perjalanan Bekasi – Fatmawati mengambil cucian kotor si anak yang mondok di sekolah tuna netra, kehujanan dan kepanasan.

