Jenis cerpen itu dibagi tiga, yaitu cerita pendek, cerita pendek yang panjang, dan fiksi mini atau flash fiction (anatara 100 – 250 kata). Di Indonesia, kita masih berkutat di jenis cerita pendek, walaupun pada tahun 2012, Agus Noor, Eka Kurniawan dan Clara Ng mengenalkan fiksi mini 140 karakter di Twitter.
Saya ingin mengutip Edgar Alan Poe, cerpenis Amerika. Ada lima aturan yang diajukan. Edgar. Pertama, cerita pendek harus pendek. Ketiga belas cerpen ini sudah layak disebut cerita pendek. Saya tidak perlu membuang waktu banyak tetapi tetap mendapatkan kesan.
Kedua harus fokus pada satu tokoh, tidak bercabang. Ketiga cerpen yang saya sebutkan di atas, sudah memiliki kriteria ini. Sisanya masih bercabang, masih ada yang belum fokus pada satu tokoh. Contoh cerpen “Menggenggam Dua Cinta”, yang mestinya akan lebih kuat jika mengolah cerita kisah cinta antara Raisya dan Krisna, kemudian cerita berhenti ketika Raisya memilih Pras yang lebih komunikatif dengan oratuanya.
Ketiga, harus ketat dan padat. Beberapa cerpen ada yang masih longgar, menuliskan yang tidak perlu. Misalnya cerpen “Rahasia Ali”, saran saya sebaiknya diselesaikan di kisah penjualan anak saja. Dikuatkan usaha seorang ibu yang ingin menebus kembali anaknya setelah menjualnya kepada tukang ketoprak.

