
Cerpen kedua juga tentang perjuangan dan kasih sayang seorang ayah. Saya merasakan cerpen ini simbolik. Selama ini kita selalu mengagungkan perjuangan seorang ibu. Surga saja di telapak kaki ibu. Si penulis menggambarkan kasih sayang si ayah dengan simbol secangkir teh pahit. Diceritakan si anak – Irwin, setiap sakit selalu diberi obat berupa teh pahit oleh si ayah. Dia iri mendengar cerita temannya, bahwa kalau sakit itu dibawa ke rumah sakit. Dokternya baik, obatnya berwarna-warni. Si tokoh meminta kepada ayahnya, jika sakit dibawa ke rumah sakit. Pada kenyataannya, di rumah sakit bukan kenyamanan yang dirasakan, justru sebaliknya. Terbayang-bayang bapak yang napasnya sesak, borok si ibu yang bernanah, sehingga tidak ada keinginan meminum obat. Tiba-tiba dia rindu obat secangkir teh pahit buatan ayah…
Cerpen ketiga berjudul “Aina”. Dengan alur maju dan mundur, saya diajak merenung. Betapa hidup ini sudah rumit, kita belajar untuk menangkap sesuatu dengan tanpa melihat. Aina, si tokoh misterius, mengajarkan kepada kita untuk “melihat tanpa mata”. Kita harus memaksimalkan panca indra yang lain, yaitu hati. Jika selama ini dengan mata, kita hanya melihat, Aina menitipkan pesan jika melihat dengan hati : menemukan.

